Fraintika Anggraeni
12/329050/SA/16357
Sastra Indonesia
Abstrak
Artikel ini
membahas tentang dialek Banyumasan dan permasalahannya. Tulisan ini juga
membahas pembantahan dialek banyumasan sebagai dialek yang terbelakang. Daerah
pengguna dialek banyumasan, asal-usul dialek banyumasan, cara menyikapi dan
merubah pandangan tentang dialek tersebut pula akan dibahas berdasarkan teori
dan pendapat dari berbagai referensi.
Kata kunci: Dialek, Dialek Banyumasan, Ngapak
A.
Pendahuluan
Dialek adalah variasi bahasa yang
digunakan kelompok masyarakat tertentu dalam konteks situasi pemakaian yang
berbeda. Sedangkan menurut Panitia Atlas Bahasa-bahasa Eropa dalam Ayatrohaedi
adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan sebagai sistem kebahasaan yang
dipergunakan oleh suatu masyarakat yang bertetangga yang mempergunakan sistem
berlainan walaupun erat hubungannya. Faktor penyebab perbedaan dialek dengan
variasi bahasa yang lain adalah perbedaan fonologi, morfologi, fonetik,
semantik. Tempat atau lokasi, perpindahan penduduk dan perubahan lokasi
pemukiman, perbedaan status sosial juga termasuk faktor penyebab dialek berbeda
dengan variasi bahasa yang lain.
Ada
dua ciri yang dimiliki dialek, yaitu (1)
dialek ialah seperangkat bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda yang
memilikiciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip sesamanya dibandingkan
denganbentuk ujaran lain dari bahasa yang sama. (2) dialek tidak harus
mengambil semua bentuk ujaran dari sebuah bahasa. Ada beragam dialek di tanah
Jawa ini, misalnya dialek Surakartaan, dialek Yogyakartaan, dialek Semarangan,
dialek Banyumasan, dan dialek Jawa Timuran. Diantara dialek yang ada, dialek
Banyumasanlah yang paling lugu dan yang paling tidak banyak memiliki cengkok
baik dalam tata bunyi maupun tata fonemnya. Hal ini dikarenakan cengkok
fonemnya tertimpa oleh ketebalan bunyi ucapannya yang kental dan lengket (Herusatoto, 2008:163). Menurut Herusatoto pula, yang
memberi istilah Ngapak untuk dialek Banyumasan adalah para priyayi wetanan yang
berbahasa jawa mbandhek. Disebut
ngapak karena pengucapan vokal a dan o dan konsonan b, d, g, h, k, y, l, dan w
sangat mantap, tegas, lugas, dan tidak mengambang (Herusatoto, 2008:6)
Pepatah
mengatakan “Basa Busananing Bangsa”
yang berarti bahasa menunjukkan
identitas bangsa, dengan begitu masing-masing tahapan bahasa Jawa membawa
perkembangan kebudayaan bangsa. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai bahasa
Jawa dialek Banyumasan atau dikenal sebagai dialek ngapak. Pertama, akan
menjelaskan tentang daerah-daerah yang menggunakan bahasa jawa dialek
Banyumasan, kemudian perbedaan antara bahasa jawa dialek Banyumasan dengan bahasa
jawa dialek yang lain, dan permasalahan-permasalahan dialek Banyumasan.
B.
Daerah
Pengguna Dialek Banyumasan
Dialek Banyumasan atau dialek ngapak digunakan
oleh daerah yang letak geografisnya berada di barat Jawa Tengah atau di
perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah, yaitu sekitar Tegal, Brebes
Cilacap, Kebumen, Kroya dan sekitarnya. Dialek Banyumasan dibagi menjadi empat
sub-dialek utama, yaitu Wilayah Utara, Wilayah Selatan, Cirebon-Indramayu, dan
Banten Utara.
Wilayah
Utara meliputi Tanjung, Ketanggungan, Larangan, Brebes, Slawi, Moga, Pemalang,
Surodadi dan Tegal. Wilayah Selatan meliputi Bumiayu, Karang Pucung, Cilacap,
Nusakambangan, Kroya, Ajibarang,
Purwokerto, Purbalingga, Bobotsari, Banjarnegara, Purworejo, Kebumen,
Gombong. Wilayah Cirebon-Indramayu meliputi Cirebon dan sekitarnya dan
Indramayu atau daerah-daerah setempat di wilayah Jawa Barat. Wilayah Banten
Utara dituturkan di wilayah Banten yang secara administratif termasuk dalam
provinsi Banten.
C.
Perbedaan
Bahasa Banyumasan dengan Bahasa Jawa lain
Pada hakikatnya, bahasa Jawa dialek
banyumasan tidak banyak berbeda dengan dialek lainnya. Ciri khas dari
dialek ini berkembang hanya di wilayah sekitar Banyumas. Namun,
dialek Banyumasan mempunyai kekhasan sebagai wahana budaya masyarakatnya yang
tidak dimiliki oleh bahasa Jawa mbandhek.
Sejumlah leksikon, struktur fonemis, dan intonasi dialek Banyumasan yang khas
merupakan unsur-unsur yang dapat dibanggakan. Dialek ini memiliki
karakter lugu, terbuka, dan apa adanya, mendapat pengaruh dari bahasa Jawa
kuno, Jawa Tengahan dan bahasa Sunda, pengucapan konsonan di akhir kata dibaca
tegas, mantap, dan jelas hal ini yang menyebabkan
bahasa Jawa dialek banyumasan disebut ‘ngapak’, pengucapan vokal dibaca tegas,
mantap, dan jelas pula.
Contohnya:
Dialek Banyumasan
|
Bahasa Jawa Baku
|
Bahasa Indonesia
|
Inyong
|
Aku
|
Saya
|
Rika
|
Koe
|
Kamu
|
Agéh
|
Ayo
|
Ayo
|
Ndisit
|
Ndisik
|
Dulu/Dahulu
|
Clebek
|
Kopi
|
Kopi
|
Ambring
|
Sepi
|
Sepi
|
Londhog
|
Alon
|
Pelan
|
Dhongé
|
Kudune
|
Seharusnya
|
Gableg
|
Dhuwe
|
Punya
|
Gutul
|
Tekan
|
Datang
|
Kiyé
|
Iki
|
Ini
|
Kuwé
|
Iku
|
Itu
|
Ciri khas lain dari dialek Banyumasan
adalah, jika dalam bahasa jawa pada umumnya akhiran ‘a’ dibaca ‘o’, dalam dialek
Banyumasan akhiran ‘a’ tetap di baca ‘a’
Dialek Banyumasan
|
Bahasa Jawa Baku
|
Bahasa Indonesia
|
Aja [αjα]
|
Ojo [ɔjɔ]
|
Jangan
|
Ana [αnα]
|
Ono [ɔnɔ]
|
Ada
|
Lara [lαrα]
|
Loro [lɔrɔ]
|
Sakit
|
Sapa [sαpα]
|
Sopo [sɔpɔ]
|
Dulu/Dahulu
|
Kaya [kαyαɁ]
|
Koyo [kɔyɔɁ]
|
Seperti
|
Apa [αpα]
|
Opo [ɔpɔ]
|
Apa
|
Ya [yα]
|
Yo [yɔ]
|
Iya
|
Alasan yang menjadikan dialek Banyumasan
tetap membaca ‘a’ pada akhiran ‘a’ adalah bahasa jawa dengan dialek Banyumas
masih terpengaruh bahasa Sunda. Hal itu jelas bisa dilihat dari letak geografisnya,
yaitu letak daerah pengguna dialek Banyumasan, berbatasan dengan jawa barat.
Namun,
walaupun sesama dialek Banyumasan atau ngapak, di setiap sub-dialek utamanya
pasti berbeda aksen bahasanya. Misalnya, aksen
daerah selatan seperti Cilacap berbeda dengan warna aksen Brebes. Dalam
sub-dialek utara dan selatan aksennya lebih tebal dan berwarna jika di
bandingkankan dengan aksen Cirebon. Aksen Cirebon lebih menjorok ke aksen Jawa
Barat, bahasa yang digunakan pula campuran antra bahasa Jawa dan Sunda. Bahasa yang digunakan ada perbedaan pula. Jika
di daerah Cilacap menggunakan kata kepriwe
(bagaimana), di daerah Brebes menggunakan kata kepriben. Jika di daerah Purbalingga menggunakan kata inyong (aku), di daerah Cirebon
menggunakan kata insun.
D.
Permasalahan
Dialek Banyumasan
Tidak sedikit kaum penutur dialek
Banyumasan yang merasa malu, rendah diri dan merasa kuno jika menggunakan
dialeknya dalam berinteraksi lintas dialek, dengan penutur Yogyakartaan
misalnya. Mereka terkadang menyembunyikan identitas mereka karena tidak ingin
dianggap sebagai orang terbelakang, khususnya akum wanita. Mereka merasa paras ayu
mereka tidak cocok bahkan tidak pantas jika berdialek dengan dialek ngapak.
Mereka akan merasa akan banyak yang mencemooh. Padahal bahasa atau dialek bukan
ukuran kemajuan seseorang. Kembali lagi, bahasa merupakan suatu identitas.
Dewasa
ini juga, banyak orangtua yang enggan mengajarkan dialek Banyumasan kepada
anak-anaknya, sehingga timbul kekhawatiran akan punahnya dialek ini. Para
orangtua di area perkotaan lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia kepada
anak-anaknya sebagai bahasa yang digunakan di masyarakat umum. Kebanggaan
berbahasa, di samping kesadaran norma dan loyalitas bahasa, merupakan faktor yang
sangat penting bagi keberhasilan usaha pemertahanan sebauah bahasa dalam
menghadapi tekanan-tekanan eksternal dari masyarakat yang memiliki bahasa
dominan (Wijana dan Rohmadi, 2006:90).
Bangsa
Indonesia adalah bangsa multikultur dan multietnik, tidak terdiri satu budaya.
Akan tetapi ada banyak budaya yang mewarnai Indonesia, sehingga perbedaan bukan
merupakan halangan dan hambatan dalam bersosialisasi. Setiap suku dan etnik
memiliki bahasa yang berbeda-beda yang menjadi identitas budaya di daerah
tersebut. Perbedaan bukan menjadi pembuat konflik atau upaya saling merendahkan
dan menjatuhkan. Justru seharusnya perbedaan menjadi sebuah tali pengikat
kebersamaan.
Bahasa
merupakan identitas suatu bangsa.Dimana bahasa itu dipakai dan digunakan dari
situlah bahasa tersebut berasal. Bahasa juga merupakan suatu keunikan dan
kekhasan yang dimiliki suatu bangsa. Bahasa bersifat arbitrer. Ia mampu
menghasilkan sistem budaya baru yang akan menandakan bagaimana budaya tersebut
tumbuh dalam masyarakat. Jawa tengah bagian barat memiliki dialek jawa yang khas
dibandingkan dengan dengan bahasa jawa standar yang dipakai di wilayah jawa
tengah yang lain.
Bahasa
Jawa dengan dialek banyumasan merupakan aset budaya yang nyaris terancam
keberadaannya. Banyak orang memandang sebelah mata dialek Banyumasan. Dalam
suatu kasus, seorang pengguna dialek banyumasan merasa malu jika ia menggunakan
dialeknya di luar lingkup daerahnya. Sebenarnya, tidak perlu berkecil hati atau
berendah diri jika memang berdialek Banyumasan. Tidak ada yang salah dengan
dialek tersebut. Hal ini dikarenakan dialek adalah sebuah identitas bangsa.
E.
Pertahanan
bagi Dialek Banyumasan
Banyak faktor yang mempengaruhinya.
Salah satunya modernisasi. Orang-orang menganggap, salah satu bahasa modern
adalah bahasa Inggris, sehingga mereka melupakan bahasa Ibunya. Karena Maju
mundurnya sutu bahasa tergantung pada tiap pemakai bahasa (Pateda. 1987:25).
Itu berarti jika suatu penutur tetap memakai bahasanya secara konsisten dan
menurunkannya kepada generasi selanjutnya, bahasa tersebut akan maju. Hal
itulah yang terjadi pada bahasa yang dianggap modern dan maju. Bahasa-bahasa
tersebut terus menerus dituturkan dan diajarkan agar tidak punah. Bahasa Lokal
Indonesia pun bisa, jika penuturnya secara konsisten merawatnya. Untuk
mempertahankan dialek Banyumas, kebijakan pembinaan bahasa Jawa, haruslah
memberi peluang yang seluas-luasnya bagi penutur-penuturnya untuk menggunakan
dialek Banyumassehingga dialek ini bisa menjadi alat komunikasi yang utama
dalam ranah keluarga dan masyarakatdalam pengembangan budaya lokalnya (Mei
dalam Wijana dan Rohmadi, 2006:89).
Anggapan
bahwa dialek banyumasan sebagai bahasa kelas bawah dan proletar juga menjadi
faktornya. Namun, di balik itu semua, dialek banyumasan merupakan budaya yang
harus dilestarikan. Modernisasi dan anggapan tersebut dapat membuat menngerus
dan memunahkan aset budaya jawa tersebut. Tugas bangsa Indonesia atau
penuturnya adalah tetap mempertahankan eksistensi dialek Banyumasan dengan cara
tetap menggunakan dialek tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pemeliharaan sebuah
bahasa tidak cukup hanya dengan usaha mendeskripsikan sistem kebahasaan dan
wilayah pemakainya, seperti yang telah dilakukan para ahli bahasa selama ini
(Wijana dan Rohmadi, 2006:89). Tidak
perlu gengsi atau sebagainya, jika setiap penutur mengedepankan gengsi 20 tahun
kedepan dialek Banyumasan akan benar-benar menghilang dari daftar kekayaan
budaya Indonesia. Itu berarti dialek Banyumasan menjadi salah satu dari 724
bahasa yang nyaris punah di Indonesia.
Tidak
benar dialek banyumasan adalah bahasa kaum proletar. Untuk menghindari dan
merubah pola pikir tersebut, perlu diketahui bagaimana sejarah munculnya dialek
tersebut. Logat Banyumasan adalah logat jawa tertua. Dialek Banyumasan masih
berkaitan erat dengat nenek moyang bahasa Jawa yaitu bahasa Kawi/Sanskerta,
sehingga kata-kata yang digunakan masih sederhana. Dahulu pengguna dialek
tersebut memang dari golongan petani, sebelum masuknya masa kerajaan
jawaDahulu, bahasa jawa hampir tidak memiliki perbedaan antara bahasa ngoko (sehari-hari) dengan bahasa inggil (penghalusan). Namun, setelah
kerajaan memasuki jawa, bahasa jawa mengalami penghalusan, yaitu perbedaan
pengucapan antara rakyat biasa dengan keluarga kerajaan tetapi memiliki makna
yang sama. Hal tersebut seharusnya dijadikan penghargaan tersendiri sebagai
upaya pelestarian dialek Banyumasan.
F.
Simpulan
Tulisan ini hanya membahas sebagian
kecil dari permasalahan dialek yang ada di Indonesia, khususnya dialek
banyumasan. Dialek Banyumasan harus dipelihara agar eksistensi dan
kelestariannya tetap terjaga. Masih banyak permasalahan mengenai budaya di
Indonesia yang sudah seharusnya dikupas dan diselesaikan oleh para generasi
penerus. Sebenarnya, tidak perlu berkecil hati atau berendah diri jika memang
berdialek Banyumasan. Tidak ada yang salah dengan dialek tersebut. Hal ini
dikarenakan dialek adalah sebuah identitas bangsa
DAFTAR
PUSTAKA
Ayatrohaedi.1979. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa
Herusatoto, Boediono. 2008. Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa dan
Karakter. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara
Keraf. Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia
Pateda, Mansoer.1987. Sosiolingusitik. Bandung: Penerbit
Angkasa
SUMBER ACUAN LAIN
d.scribd.com/doc/55407547/Makalah-Dialek-Banyumasan