Belum sampai satu minggu, aku sudah tak paham dengan aku yang sekarang. makin kesini, aku makin tersesat di tengah teman-teman lama yang semakin membaru. aku mungkin butuh teman baru yang bisa berada bersamaku selamanya.
Semakin ke sini, aku semakin hilang di tengah keramaian yang semakin tak kupahami. Semakin bingung dengan tawa-tawa yang tak makin tak kukenali.
Memang seharusnya aku pergi dan menata hati agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menata pikiran agar mudah dikendalikan. menata mental agar terus siap menghadapi hal-hal menyakitkan yang tak tahu pasti kapan datangnya.
Seharusnya aku selalu tahu bahwa aku tidak akan pernah di hatinya selamanya atau seharusnya aku terus bersadar diri bahwa aku tidak mungkin berada di pikirannya selamanya. Hari semakin bergulir dan orang-orang semakin membaru. Aku rasa aku yang masih ingin di sini bersama kenangan yang semakin memudar. Kenangan yang segera terganti oleh pengalaman yang semakin menakjubkan dan membahagiakan.
Bagaimana bisa aku masih di sini dengan keadaan seperti ini, yang masih ingin diperhatikan dan disapa pagi sore siang malam. Banyak hal yang bisa dilakukannya dari pada harus meladeniku dengan ucapan selamat pagi atau siang atau selamat makan.
Seharusnya memang aku belajar melupakan. Karena mengingat sendirian itu tak selamanya menyenangkan. Karena menjadi orang pertama yang dilupakan adalah hal yang menyakitkan. Aku akan dikubur bersama kesibukan. Aku akan terkikis denagn orang-orang baru yang selalu berdatangan.
Seharusnya aku menemukan orang baru dan belajar melupakan. Belajar berjalan sendiri dan tertawa sendiri. Belajar tidak mempedullikan. Belajar hidup dengan kemandirian tanpa bantuan orang-orang yang datang sementara.
Aku tak pernah paham jalan pikiran sempitku. Aku hanya takut kehilangan dan takut dilupakan.
Semakin ke sini, aku semakin hilang di tengah keramaian yang semakin tak kupahami. Semakin bingung dengan tawa-tawa yang tak makin tak kukenali.
Memang seharusnya aku pergi dan menata hati agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menata pikiran agar mudah dikendalikan. menata mental agar terus siap menghadapi hal-hal menyakitkan yang tak tahu pasti kapan datangnya.
Seharusnya aku selalu tahu bahwa aku tidak akan pernah di hatinya selamanya atau seharusnya aku terus bersadar diri bahwa aku tidak mungkin berada di pikirannya selamanya. Hari semakin bergulir dan orang-orang semakin membaru. Aku rasa aku yang masih ingin di sini bersama kenangan yang semakin memudar. Kenangan yang segera terganti oleh pengalaman yang semakin menakjubkan dan membahagiakan.
Bagaimana bisa aku masih di sini dengan keadaan seperti ini, yang masih ingin diperhatikan dan disapa pagi sore siang malam. Banyak hal yang bisa dilakukannya dari pada harus meladeniku dengan ucapan selamat pagi atau siang atau selamat makan.
Seharusnya memang aku belajar melupakan. Karena mengingat sendirian itu tak selamanya menyenangkan. Karena menjadi orang pertama yang dilupakan adalah hal yang menyakitkan. Aku akan dikubur bersama kesibukan. Aku akan terkikis denagn orang-orang baru yang selalu berdatangan.
Seharusnya aku menemukan orang baru dan belajar melupakan. Belajar berjalan sendiri dan tertawa sendiri. Belajar tidak mempedullikan. Belajar hidup dengan kemandirian tanpa bantuan orang-orang yang datang sementara.
Aku tak pernah paham jalan pikiran sempitku. Aku hanya takut kehilangan dan takut dilupakan.
0 komentar:
Posting Komentar