skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Fraintika Anggraeni
Fraintika Anggraeni kerap disapa Weje, Atun, atau Tuk-tuk. Punya persepsi sendiri tentang segala hal, tapi selalu terbuka terhadap persepsi orang lain. Tiap tahun ada masanya. Tiap masa ada tahunnya. Belajar legowo dan terima kenyataan :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Kalendar

research paper essay Free Calendar

Clock clock

Archivo del blog

  • ▼ 2017 (7)
    • ▼ September (1)
      • YOU JUST ONLY HAVE ONE LIFE, JUST LOVE WHAT YOU DO...
    • ► Agustus (1)
    • ► Januari (5)
  • ► 2016 (13)
    • ► Desember (4)
    • ► April (1)
    • ► Maret (3)
    • ► Februari (2)
    • ► Januari (3)
  • ► 2015 (14)
    • ► September (2)
    • ► Juni (2)
    • ► Mei (2)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)
    • ► Februari (4)
  • ► 2014 (49)
    • ► November (2)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (3)
    • ► Juni (11)
    • ► Mei (4)
    • ► April (11)
    • ► Maret (6)
    • ► Februari (4)
    • ► Januari (6)
  • ► 2013 (40)
    • ► November (5)
    • ► Oktober (3)
    • ► September (3)
    • ► Juli (3)
    • ► Februari (23)
    • ► Januari (3)
  • ► 2012 (30)
    • ► Desember (1)
    • ► November (11)
    • ► Oktober (6)
    • ► September (12)
  • ► 2010 (2)
    • ► November (1)
    • ► September (1)

Label

  • Cerpen (2)
  • Curhats (30)
  • Informatif (2)
  • Me and My Friends (7)
  • Owl City Lyrics (5)
  • Puisi (11)

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Info

Rumah Dijual di Bintaro

Pengunjung

Lencana Facebook

Fraintika Anggraeni

Buat Lencana Anda

F R A I ' S

Ketika perkataan bisa berubah di lidah, namun dalam aksara, kata akan tetap sama :)

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2013

SUATU SORE DENGAN SENYUM YANG INDAH


                               

Jogja sore yang sejuk. Aku masih di sekitar pelataran kampus sekarang. Menikmati indahnya Kota Pelajar ini dari sudut kampusku tercinta. Aku bukannya tidak sengaja datang kesini, tapi aku baru saja  berlatih di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa dan kebetulan jam latihan sudah selesai sejak pukul 16.45 tadi. Masih ada waktu untuk bernafas sejenak, pikirku.
Sambil duduk-duduk santai di sepanjang trotoar jalan utama di kampusku, di sini memang tempat yang cocok untuk jogging sore, main sepeda keliling kampus, main futsal atau hanya sekedar jalan-jalan dan bercengkrama bersama teman-teman. Aku memasang headset di kedua telingaku dan memutar lagu Rocket Rocker – Ingin Hilang Ingatan. Oh Tuhan, aku kembali merindukan dia. Sosok yang pernah bersamaku selama empat tahun dan dia sangat mewarnai hariku selama empat tahun itu. Merah, kuning, hijau, kelabu sampai hitam, sampai-sampai dia mulai kehabisan tinta untuk mewarnai hidupku lagi. Katanya dia menyerah dengan semua tingkahku.
Ah, lupakan dia Diana, batinku. Lagu ini memang lagu andalanku saat aku ingin menumpahkan segala laraku lewat air mata. Dia sudah menghilang di telan wanita lain dan dia bahagia. Oke, aku juga harus bangkit. Kata-kata penyemangatku.
Kurang lebih 10 menit aku duduk dan menghirup udara yang benar-benar menyegarkan paru-paruku. Kemudian playlistku memutar lagu The Bird and The Worm milik Owl City, aku sedikit berlirih mengikuti lagunya, walau tak hafal, tapi aku suka.
“If I'm your (YOU’RE MY)  boy, let's take a short cut we remember
And we'll enjoy, picking apples in late September
Like we've done for years
Then we'll take a long walk through the corn field
And I'll kiss you between the ears
”
                Aku jadi teringat pada Riko, teman satu UKM ku tadi, dia manis aku suka cara dia tersenyum. Aku juga suka cara dia memanggil namaku. Lagu memang suka mempermainkan emosi seseorang. Dia seolah punya kekuatan tersendiri yang membuat seseorang yang mendengarnya terpaksa harus mengingat dan memutar memori pahitnya, tak jarang memori manispun terputar J
                Waktu menunjukkan pukul 17.20, aku masih ingin di sini dan menikmati sore ini dengan indah, walau sendirian, tak apalah, toh aku benar-benar menikmatinya. Akan tetapi, di tengah kesepian ini aku mendengar seseorang yang memanggil namaku
“Diana ?”
 iya kedengarannya ada yang memanggil namaku. Aku praktis melepas headset ku dan mencari sumber suara.
“Riko ?”
Ternyata itu Riko, Ya Tuhan, pucuk dicinta ulampum tiba, dia menghampiriku.
“Hei, ngapain kamu jam segini disini ?” Katanya, dia setengah ngos-ngosan.
“Lah, kamu sendiri ngapain jam segini belum pulang?” balasku
“Aku tadi ngerapihin alat, dasar anak-anak brass[1] pada berantakan naruh alatnya”  dia mulai mengatur nafas lagi dan aku tak  berhenti memandanginya
“lah kamu ngapain disini ?” tambahnya
“Aku ? Eh, cuman iseng aja kok hehe, lagi males balik nih, jadi pengen nikmatin sore disini, lagian mumpung pulang cepet hehe” jelasku sambil cengengesan
“Oh, terus kenapa sendirian ? Kenapa ngga ngajak temen sesama Colour Guard[2] ?”
“Pengen aja sendiri. Lagian tadi ngga sengaja lewat sini, terus aku mutusin buat stay disini dulu”
“Haha, lain kali jangan sendirian, kamu bisa kok ajak aku” katanya santai
Ya Tuhan, apa yang barusan dikatakan Riko ? Ya ampun, dia benar-benar membuat aku melambung
“Tapi kalo ajak aku harus ada snacknya hehe” candanya. Aduh, dia ini serius apa tidak sih ?
“Yeee, males amat” tukasku kesal
“Hahaha, sumpah jelek banget kamu manyunnya haha” tawanya sambil menunjuk kearahku yang memang sedang manyun gara-gara candaanya.
“Bercanda kali, Diana” dia tersenyum. Lagi-lagi aku menyebuut namamu, Tuhan, sungguh dia manis sekali saat tersenyum. Lesung pipit yang menghiasi wajahnya terasa sempurna. Kulitnya yang agak hitam, alisnya yang tebal, giginya yang rapi ah sempurna sekali dia.
                Dia juga ternyata humoris, mudah mencairkan suasana sehingga kegugupanku tidak terlalu tersirat. Dia mulai bercerita kejadian-kejadian konyol selama latihan tadi, kemudian dia tertawa lepas. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, tanpa dia sadari aku benar-benar memperhatikannya. Dalam-dalam, benar-benar mempelajari setiap lekukan wajahnya sehingga  wajah itu menciptakan sebuah ekspresi tawa yang begitu indah. Ah, Riko, ternyata aku benar-benar menyukaimu, kataku dalam hati.
                Tanpa aku sadari juga, Riko mulai menyadari bahwa aku kedapatan tersenyum tanpa mengedipkan mata ke arahnya lalu dia menegurku
“Hey, kok senyum-senyum doang sih ?” katanya sambil salah tingkah
“Eh, hehe aku kan merhatiin kamu, kamu ceritanya semangat banget” jawabku seadanya
“Hmm, masak sih ?” Dia mulai menggoda
“Ih, beneraan” Aku menjadi sangat salah tingkah dan tersenyum malu. Kemudian kami tertawa lepas.
                Hening kemudian, langit Jogja menguning, taman ini pun sepi perlahan, aku masih ingin disini, dalam situasi ini bersamamu, Riko. Ya Tuhan, jangan cepat kau akhiri sore yang indah ini atau Kau boleh mengakhirinya tapi Kau harus menggantinya dengan hari yang lain. Aku benar-benar mencoba bernegosiasi pada Tuhan, tapi tidak mungkin rasanya
 Di tengah keheningan, kami dikagetkan dengan suara ponsel Riko. Riko cepat-cepat merogoh sakunya dan segera menjawab panggilan itu
“sebentar ya” katanya, kemudian dia sedikit memalingkan badannya sepertinya ingin menghindari kemungkinan aku mendengar percakapannya dengan si lawan bicara, tapi aku sedikit menangkap pembicaraannya.
“Halo ?”
“....”
“Iya, sayang aku masih di kampus”
Apa ? Sayang ? Ya ampun, Riko sudah punya pacar ! Ya Tuhan, Kau benar-benar memutarnya begitu cepat. Ingin rasanya aku menangis, tapi tak  mungkin. Riko masih berbicara dengan kekasihnya.
“Baru beres latihan ini sama temen-temen, kamu dimana ?”
“...”
“Aku jemput ya, jangan kemana-mana sebelum aku dateng”
“....”
“Bye” Klik, dia mengakhiri telepon. Sepertinya dia akan segera mengakhiri sore yang maha indah ini. Dia akan menemui pujaan hatinya dan aku tidak boleh terlihat kecewa.
“Di, aku duluan yah, ada yang minta dijemput nih hehe” katanya. Benar saja dugaanku
“Hm, cewenya yaaa” aku sedikit menggoda, tapi dalam hati aku tidak terima
“Hehe” senyumnya yang indah itu terpajang lagi, membuatku jadi lebih sakit
“Kamu cepet pulang gih, ntar kamu diculik ama penunggu taman ini lagi hehe” dia melanjutkan dengan candanya yang membuatku hanya bisa tersenyum.
“Iya, udah sana pulang” Ah, aku bersumpah aku menyesal sekali berkata seperti tadi, harusnya aku bekata “jangan pergi dong, aku masih pengen sama-sama kamu” tapi itu terlalu tidak mungkin.
                Dia beranjak, berdiri dan kemudian memberiku senyuman yang manis itu lalu berkata
“Bye, sampai besok ya, jangan males latihan” dan aku hanya meresponnya dengan anggukan. Dalam hati aku menjawab, aku tak akan malas datang kesini, selama kamu masih mau berderma semyummu hanya untukku. Aku akan menunggumu besok, lusa, minggu depan dan sampai kapanpun disini. Aku ingin bersamamu lagi disini.
Aku benar-benar menyaksikan dia pergi, melihat punggungnya yang kemudian hilang di tikungan jalan. Ah, hari ini indah, tapi begitu singkat untuk aku nikmati. Kini aku sendirian menyaksikan pergantian sore yang hangat menjadi malam yang dingin. Rasanya aku ingin menangis, tapi apa yang harus aku tangisi.
                Aku pun mulai bernjak dari taman itu, mulai berjalan gontai menuju tempat tinggalku yang tidak terlalu jauh dari sini. Aku masih mengingat dan mengenang hal ajaib tadi, bisakah terulang lagi dan tidak dalam jangka waktu yang lama, atau terulang sesering mungkin. Oh Tuhan, Kau memang Maha Indah, skenariomu begitu rapi sehingga drama ini tidak bisa bearkhir seperti yang aku inginkan. Ajari aku untuk kuat sekarang Tuhan, karena aku tau, Kau Maha Pintar untuk membuatku berhenti memikirkan Riko. Kemudian aku memasang headset lagi, memutar lagu The Way I Loved You – Selena Gomez

And it’s maybe wonderfull, it maybe magical, it maybe everything i’ve waited for a miracle, Oh but even when i falling love again with someone new, it could never be the way I LOVE YOU.

TAMAT




[1] Divisi pada Unit Marching Band. Alat tiup
[2] Divisi pada Unit Marching Band. Bendera
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 22.24 0 komentar
Label: Cerpen

Kamis, 20 September 2012

Seharusnya tidak begini


Malam itu, Tiana menyendiri di kamarnya. Dia termenung, meratap dan seolah menyesal. Airmatanya mulai menetes. Satu tetes, dua tetes, kemudian deras. Menangislah dia tersedu-sedu.
Awalnya dia senang karena dia bisa berkopi darat dengan lelaki yang telah lama ia kenal lewat jejaring sosial Facebook. Awal perkenalan yang biasa saja, mungkin saking penasarannya Tiana sering membuka akun facebook si lelaki itu. Sehingga ia mulai menaruh simpati yang lebih terhadapnya.
Namanya Gaary, lelaki yang sedang mengenyam pendidikan di fakultas ekonomi, di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Memang dia yang memulai semuanya. Mulai dari menambah pertemanan sampai ke chatting. Gaary adalah sosok lelaki yang baik, supel, pintar dan dia berasal dari golongan yang berada.
Di siang yang cukup melelahkan, Tiana sedang duduk di lorong koridor kampusnya sambil iseng membuka akun faceboooknya. Tiana adalah seorang mahasiswi jurusan sastra di Universitas negeri di Jakarta. Tiba-tiba WIIIINK, ada seseorang yang memberi chat padanya.
Gaary Alamsyah
Ø  Hai Tianaaa
Tiana sontak kaget, tapi dia langsung membalasnya
Tiana Prastika
Ø  Eh, hai juga Gaary, waah tumben ngachat
Gaary Alamsyah
Ø  Hehe iseng aja nih Ti, kebetulan kamu juga lagi online, makanya aku chat
Ø  Gimana kuliahmu ?
Tiana Pratika
Ø  Haha kamu kaya yang ga ada kerjaan aja ya iseng
Ø  Ehm lumayan menguras waktu nih, sibuk :D
Gaary Alamsyah
Ø  Iya nih lagi free sampe minggu depan
Ø  Waaah kamu sibuk banget yah ?
Tiana Prastika
Ø  Wah enak banget free, pengeeeen
Ø  Lumayan sibuk, tapi ga pake banget :D
Gaary Alamsyah
Ø  Kalo ga sibuk, kita main yuk :D
Tiana Prastika
Ø  Main ? man kemana ?
Gaary Alamsyah
Ø  Ehmmm, ke hatimu :p
Ø  Kemana aja suka2 kamu
Ø  Eh Tiana boleh minta nomernya ga ? Biar kita ada komunikasi terus
Tiana Prastika
Ø  Oh boleh, ini 08888991122
Gaary Alamsyah
Ø  Oke, makasih Tiana, ntar aku sms kamu ya
Percakapan via dunia maya pun berakhir. Tak lama kemudian, ponsel Tiana berdering, ternyata Gaary langsung memberi pesan singkat padanya. Semakin akrablah mereka, walau hanya bisa berkomunikasi lewat Facebook atau ponsel, tapi mereka sudah sangat akrab.
Sampai, pada suatu hari Gaary mengirim sms pada Tiana
Gaary : Tia, kita main yuk, kan liburan semester nih
Tiana : Ehm, boleh main kemana ?
Gaary : Besok  kita janjian aja di deket kampusmu jam 10, gimana ?
Tiana : Oke deh
Tiana tak kepalang senangnya karena akhirnya dia bisa bertemu dengan sosok yang selama ini dikenalnya lewat dunia maya. Sepanjang malam Tiana tak bisa memjamkan matanya, dia membayangkan bagaimana besok dia akan pergi main dengan Gaary, pasti sangat menyenangkan. Tapi dia menemui satu titik dilematis. Dia takut Gaary akan kecewa dengannya. Karena Tiana merasa ia sangat berbeda dengan Gaary. Tapi segeralah ia tepis prasangka buruknya. Ia hanya membayangkan betapa serunya “kencan” pertamanya dengan orang yang dikenalnya melalui dunia maya.
Keesokan harinya, Tiana sudah berdiri di depan halte depan kampusnya. Jakarta sudah mulai terik, tapi sosok Gaary belum juga datang. Saking tak sabarnya, Tiana mengirim sms pada Gaary
Tiana : Gaar, aku udah di halte, pake baju kuning
Gaary : Oke sebentar yah, aku lagi di jalan kok, aku pake jaket biru
Kini, Tiana hanya terfokus pada pengendara motor berjaket biru. Diperhatikannya setian sepeda motor yang lewat, tak ada tanda2 bahwa itu Gaary. Mungkin dia harus bersabar lagi. Tak lama kemudian, berhentilah motor Ninja Hijau didepannya.
“Hei, Tiana !” Serunya dengan tidak jelas karena masih menggunakan helm
“Eh Gaary, lama amat sih”
“Hehe, lama ya ? maaf deh tadi lampu merahnya lama banget, ayo buruan naik !”
Tanpa ba-bi-bu Tiana naik di belakang Gaary. Tiana tidak menyangka pada Gaary asli yang begitu tampan, alisnya tebal, bibirnya penuh, sorot matanya yang menyeret. Dia merasa tak pantas berasa dibelakang Gaary dan berboncengan dengannya.
Tapi pagi itu, Tiana mencoba menikmati jalan-jalannya dengan sang Arjuna dunia mayanya. Ia meninggalkan sejenak perasaan tak pantasnya. Ia ingin hari ini berjalan dengan indahnya, tak peduli dengan Gaary, yang mungkin dia malu untuk bersandingan dengan Tiana. Setelah lelah berjalan2, mereka memutuskan untuk istirahat makan. Selama menunggu makanan, Tiana tak berani menatap wajah Gaary, ia takut Gaary akan mual jika melihat wajahnya. Disela-sela menunggunya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Gaary
“Hei Gaar !”
Ternyata itu teman SMA Gaary dulu, namanya Lusi
“Eh Lusi, ngapain lu disini?” tanya Gaary padanya kemudian bercipika-cipiki dengan Lusi
“Maen sih iseng, sambil nyari buku referensi buat kuliah”
“oooh, eh kenalin nih, Tiana. Tia ini Lusi temen SMA ku dulu” Gaary memperkenalkan Tiana pada Lusi
“Hai Tiana” sapa Lusi ramah
“Eh Gaar, lu ga pernah sms si Andin lagi ? dia nanyain lu tuh” Lusi memulai pembicaraan yang entah apa topiknya, Tiana berusaha menangkap percakapan mereka, namun dia tidak bisa menangkap semua isi percakapan anatara Gaary dan Lusi, karena sangking ramainya.
“haha salamin aja deh kalo ketemu” canda Gaary
“woo dasar sombong lu ah, eh gue duluan yah, masih ada janji nih”
“loh, gamau ikut gabung ama kita nih ?” bujuk Gaary
“haha makasih deh, gue gamau ngerusak acara kalian, selamat ngedate deh hehe” canda Lusi
“yaudah lu hati2 ya”
Oke, byeee!”
Lusi pun meninggalkan Gaary dan Tiana, kemudian menghilang ditelan kerumunan orang2. Tiana mencoba menangkap dan mengingat2 percakapan Lusi dan Gaary tadi. Tiana penasaran, siapa sebenarnya Andin ? jangan-jangan pacarnya, atau gebetannya atau bahkan mantannya. Tiana mengira2 dengan serius. Dia benar-benar penasaran dengan sosok Andin. Setelah makan, mereka memutuskan untuk pulang. Gaary mengantar Tiana sampai depan rumahnya.
“makasih ya Gaar, udah nemenin jalan-jalan”
“haha iya sama-sama, malah harusnya aku yg bilang begitu, kan aku yang ngajak”
Tiana hanya tersenyum paksa, ia seolah tidak ingin berpisah dengan Gaary. Ia masih ingin bersama Gaary. Tapi apakah Gaary punya perasaan yang sama dengannya, ia tak tau, ia juga tak mau keegoannya terlihat
“ehm, mau mampir dulu ga ?” tawar Tiana tak serius
“heh ngga deh makasih, ngga enak ama keluarga kamu”
“beneran nih? Haha oke yaudah klo ga mau”
“yaudah aku pulang dulu yah, bye”
“hati-hati yah”
Tiana ingin tampak mesra seperti seorang kekasih, tapi tidak mungkin.

Setelah itu, ia beranjak menuju kamarnya dan membuka laptop kemudian membuka akun Facebooknya, ia mencoba mencaritau siapa sebenarnya Andin itu. Ia sapu tiap halaman facebooknya, kemudian ia mencari tau pada akun Gaary. Ia buka semua album foto facebook Gaary, dan benar saja, banyak sekali foto-foto mesra Gaary dengan seorang wanita cantik yang entah siapa namanya. Pada hari itu Tiana belum berhasil menemukan siapa Andin.
Beberapa hari kemudian, akhirnya Tiana menemukan akun Andin, nama akunny Andini Gerossa. Tapi tidak ada satu petunjukpun tentang status dia dengan Gaary. Tapi bagaimanapun ia harus sadar diri dan mundur dari semua yang diharapkannya. Jangan sampai ia jatuh cinta pada Gaary, karena ia dan Gaary beda derajat. Ia harus sadar. Lagipula Andin jauh lebih cantik darinya, sehingga mustahil untuk Gaary melirik Tiana. Bahkan memilihnya menjadi kekasihnya. Itu mustahil. Itu hanya mimpi Tiana belaka.
Tiana sebenarnya sadar bahwa ia telah menaruh rasa pada Gaary. Tapi perasaan itu harus cepat-cepat di kubur, di bakar dan dimusnakan dari lubuk hatinya. Ia harus sadar diri.
Dimalam yang cukup dingin, Tiana menunduk dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan yang sudah terlanjur berparasit dihatinya. Namun hal itu tak mudah, ia merasa bodoh karenanya. Ia mulai tersedu, airmatanya mulai menetes, satu tetes, dua tetes, kemudian mengalir dengan derasnya. Ia masih berkemelut dengan pikirannya, Gaary pasti sudah tak mau berkomunikasi lagi dengannya. Gaary pasti merasa jijik dengannya. Tiana menangis dalam kegalauan yang mendalam. Ia harus bangkit dan melupakan Gaary. Ia mencoba menghibur dirinya sendiri dan menenangkan hatinya.
Namun tiba-tiba ponsel Tiana berdering. Ada satu pesan yang berbunyi
Gaary : Hai Tiana, Minggu besok main lagi yuk



-SELESAI-





Haha ini cerpen abal-abal selamat bingung, maklum newbie :p
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 21.32 0 komentar
Label: Cerpen, Me and My Friends, Puisi
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod