skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Fraintika Anggraeni
Fraintika Anggraeni kerap disapa Weje, Atun, atau Tuk-tuk. Punya persepsi sendiri tentang segala hal, tapi selalu terbuka terhadap persepsi orang lain. Tiap tahun ada masanya. Tiap masa ada tahunnya. Belajar legowo dan terima kenyataan :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Kalendar

research paper essay Free Calendar

Clock clock

Archivo del blog

  • ▼ 2017 (7)
    • ▼ September (1)
      • YOU JUST ONLY HAVE ONE LIFE, JUST LOVE WHAT YOU DO...
    • ► Agustus (1)
    • ► Januari (5)
  • ► 2016 (13)
    • ► Desember (4)
    • ► April (1)
    • ► Maret (3)
    • ► Februari (2)
    • ► Januari (3)
  • ► 2015 (14)
    • ► September (2)
    • ► Juni (2)
    • ► Mei (2)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)
    • ► Februari (4)
  • ► 2014 (49)
    • ► November (2)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (3)
    • ► Juni (11)
    • ► Mei (4)
    • ► April (11)
    • ► Maret (6)
    • ► Februari (4)
    • ► Januari (6)
  • ► 2013 (40)
    • ► November (5)
    • ► Oktober (3)
    • ► September (3)
    • ► Juli (3)
    • ► Februari (23)
    • ► Januari (3)
  • ► 2012 (30)
    • ► Desember (1)
    • ► November (11)
    • ► Oktober (6)
    • ► September (12)
  • ► 2010 (2)
    • ► November (1)
    • ► September (1)

Label

  • Cerpen (2)
  • Curhats (30)
  • Informatif (2)
  • Me and My Friends (7)
  • Owl City Lyrics (5)
  • Puisi (11)

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Info

Rumah Dijual di Bintaro

Pengunjung

Lencana Facebook

Fraintika Anggraeni

Buat Lencana Anda

F R A I ' S

Ketika perkataan bisa berubah di lidah, namun dalam aksara, kata akan tetap sama :)

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2013

Lewat Gerimis


Pelangi sudah berkemas dan segera menghilang
Awan senja menguning kemudian hilang dilahap sang malam
Tapi hujan masih disini menemani
Bukan hujan, hanya gerimis yang amat mesra
Mesra sekali
Yang menjadi rekaman dan otakku mulai mencari dimana dia tersimpan
Dingin membelai
Dingin merasuk
Segelas kopi yang mengepul belum bisa mengobati itu
Aku butuh sosok
Sosok yang menghangatkan
Walau hanya dengan senyuman
Sosok yang suatu waktu pernah menjadi temanku saat mentari lengser
Yang menemani kala bintang bertabur
Dengan segala kehangatannya
Auranya, bahasa tubuhnya
Tapi mungkin tidak tepat rasanya
Tidak tepat aku mengangankan dia lagi
Tidak tepat aku membayangkan dia lagi
Tidak tepat aku memutar memori ini dalam situasi ini
Mungkin sosok lain bisa menggantikan peranmu dalam drama kehidupanku
Sosok yang beda yang lebih baik dan yang lebih menghangatkan

Ah, gerimisnya mulai menjelma menjadi hujan
Memoriku sudah hancur tersambat petir
Meluluhlantakkan kesunyianku dan mengajakku beranjak bangkit
Hujan mungkin menjadi makhluk yang munafik sekarang
Ia selalu mengingatkanku padanya tapi juga menyuruhku beranjak
Tapi mungkin dia akan jadi makhluk setia juga
Karena dia akan ada disini dengan segelas kopi hangatku
Dan segudang memori kisah hambarku denganmu
J

Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 21.54 2 komentar
Label: Puisi

Sabtu, 10 November 2012

INILAH MAKSUDNYA


Menikmati senja sore,
Berkeringat, kelelahan dan bertarung dengan potongan-potingan Robotic Manufacturing Sistem
Membiarkan ujung tumit berotasi sejauh pikiran militan yang semakin detik semakin menghilang
Segaris dengan mentari yang kian condong ke barat
Aku memperhatikan setiap tawa palsu yang tercipta
Tempat apa ini ?
Topeng-topeng yang sulit terbuka
Atau ini masih rupa bocah yang merengek minta permen ke mamanya
Aku memperhatikan setiap gelagat bisu tanda tak mampu
Dan aku mendapati juga
Manusia dengan kepingan semangat yang nyaris runtuh
Selurus dengan dedaunan yang gugur dan angin yang membelai seolah berisyarat
“aku akan disini menemanimu, sampai kau tau apa maksud sore ini”
Aku berkaca pada nurani
Bisakah aku bertahan dan mencari nafas disini ?
Dan menemukan apa arti hal tabu yang bernama “KEBERSAMAAN” yang selama ini digemborkan
Aku tak ingin
Tapi aku SANGAT INGIN
Walau nafasnya beda
Walau bau tubuhnya beda
Walau semuanya beda
Tapi aku harus jadi bagian dari mereka
Dan benar-benar bisa menfsirkan kata tabu yang bernama “KEBERSAMAAN”
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 18.54 0 komentar
Label: Puisi

Selasa, 06 November 2012

Siklus


Embun
Sejuk
Matahari
Semilir
Terik
Panas
Keringat
Semilir
Mendung
Gerimis
Hujan
Petir
Gemuruh
Badai
Petang
Matahi hilang
Malam
Bulan
Bintang
Mendung
Hujan mengamuk lagi
Gemericik bernyanyi
Menakutkan
Kantuk
Berlindung di balik selimut
Mengintip
Berlindung lagi
Lelah
Kantuk
Alam mimpi
Kemudian terbangun
Badai belum berhenti
Dewi tidur membelai
Kantuk menyerang
Semoga esok lebih baik
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 23.00 0 komentar
Label: Puisi

Hujan


Hujan, lunturkanlah segala gundahku
Hapus segala galauku
Bawa mengalir sampai jauh
Dan jangan biarkan keduanya bertemu denganku kelak
Hujan, basahilah emosiku
Redam semua amarahku
Hibur aku dengan potongan angin yang ikut menggalau
Hujan, jangan berhenti sebelum aku bangkit
Terus temani aku dengan alunan ritmismu
Aku suka tiap bagian darimu
Aku suka melirih dalam kebisingan aumanmu
Hujan, kelak aku menjadi apa yang ku mau
Aku mau kau tetap menjadi hujan
Yang punya segudang album kenangan pahit manisku
Hujan yang bernyanyi kala mendung
Hujan yang mengamuk kala petir menyambar
Hujan yang menyiksa kala terik sudah kalah
Tetaplah menjadi hujan yang aku kenal selama ini
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 22.55 0 komentar
Label: Puisi

Sabtu, 13 Oktober 2012

Semilir Sepi

Dingin menyelimuti
Panas menerangi
Untuk kesekian musim
Kau hilang di makan zaman
Kemana mesti ku cari
Ceceran bayangmu
Potongan nafasmu
Bongkahan jiwamu
Mana kau tau aku letih berdiri
Puing-puing hatiku nyaris mati
Aku diam dengan semilir-semilir sepi
Nada angan-angan berputar kencang diatas kepalaku
Seakan mengisyaratkan
Kau bakal datang
pulang
dengan segala kepastian
Aku masih meringkuk diselimuti dinginnya sepi
Dan berusaha menghela nafas walau galau menampari
Hujan yang berdendang
dan wangi tanah beselayang
Semuanya hadir mengharapmu berfikir
ini bukan takdir
tapi kau yang membuatku enggan berakhir
Sepii semilir
hujan berdendang
aku nyris mati bagai pecundang
aku yakin kau tertawa lantang bagai pemenang
Kau merasa menang
padahal kau pecundang
Pulanglah pecundang
Aku merindukan potongan nafasmu
jangan biarkan aku mati dengan gelar pecundang abadi
yang dikubur bersama semilir sepi
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 15.25 0 komentar
Label: Puisi

Minggu, 30 September 2012

Doaku dari sini, Bu

Minggu pagi. Masih dingin. males rasanya buat beranjak dari tempat tidur dan melepaskan selimut untuk mengambil air wudhu. Ya tapi itu harus. Seusai sholat, aku memutuskan buat tidur lagi. dingin banget hari ini. Tapi baru lima menit aku mencoba memejamkan mata, Ibuku menelpon.Ibu memang janji mau menelpon pagi ini untuk memberiku sedikit amalan dzikir. Setelah ibu selesai memberiku wejangan, aku langsung membuka pembicaraan
"bu, semalem dia pulang ?"
"ngga tik. Gatau, katanya di jalan ama anak-anaknya, mana ibu ga ada uang lagi"
ya ampuuun, padahal aku baru aja mau minta uang buat keperluan2 besok
"emang jalan kemana bu ?"
"ya gatau, kemaren pulang malem langsung pergi lagi, baju-bajunya dimasukin semua ke tas"
"ibu ga nanya dia mau kemana ?"
"nanya sih 'mau kemana?' ya ittu katanya mau main ama anak-anaknya. padahal dari kemaren-kemaren ga pulang-pulang, ade kamu aja ga sekolah. ibu ga punya uang. ademu yang satunya cuman ibu kasih pas-pasan  ongkos berangkat, mungkin disekolah dia pinjem ketemennya"
airmataku mulai menetes
"dari tanggal 24 ibu ga punya beras. ibu cuman makan mie berdua ama ademu, ademu yang satunya biar makan nasi"
aku menangis. sampai saat aku mengetik inipun aku menangis.
"kemaren pas ibu mau rapat di sekolah ademu, dia ga pulang, ibu cuman dikasih uang pas-pasan"
ya Allah, sampai segtunya kah dia ? dimana rasa tanggung jawabnya ? mana janjinya yang dulu ? ya Allah, tega sekali dia berlaku seperti itu ke keluargaku. Ya Allah, rasanya aku ingin pulang menemani ibuku.
"tik, di lemari ada uang 50rbu, kata kamu itu ibu pake aja atau ngga, soalnya ibu udah ga punya apa-apa"
ujarku, buat apa kalo ga dipake. itu buat makan, buat menyambung hidup, ya pake aja. lagian ibu istrinya dia !
"tapi ibu takut dikira maling, kemaren aja dia bilang begitu ke ibu, waktu semua hp nya ibu sita. abisnya dari waktu yang dia ga pulang-pulang, ibu sms ga di bales, di telpon ga diangkat"
Ya Allah, sebegitunya perlakuan dia terhadap ibu ku dan adik-adikku ?
"eh apa ibu pake, terus nanti ibu ganti, kan sekitar hari senin atau selasa mungkin ibu gajian"
sekali lagi aku nyebut. airmataku tambah deras saja. ya Allah, kenapa kau kirim dia ke keluargaku ? dia cuman bawa sengsara ya Allah. Dia tidak seperti apa yang aku kira, Ku kira dia bisa menjaga dan melindungi ibukku dan adik-adikku sepeninggal aku ke Jogja. Dia tidak seperti ayahku. Dia bahkan bukan orang baik. Ya Allah, aku langsung teringat makam ayah, yang lebaran lalu adalah kali terakhirku berunjung kesana. Ya Allah, kenapa jadi begini ? ingin rasanya aku menyuruh ibuku untuk melepaskan diri darinya. Airmataku deras, hidungku mampet, dadaku sesak.
"iya mungkin bisa begitu bu" jawabku pendek, aku ga mau ibu tau kalo aku menangis, karena aku ga pernah  mau terlihat menangis di sepan siapapun.
"kamu disana masih ada uang ga ?"
lebih baik aku berbohong kali ini
"masih kok, udah gausah dipikirin aku mah"
"yaudah hati-hati disana, uangnya di hemat"
kata-kata yang sudah lumrah ku dengar sejak SMP
"yaudah, ibu mau ke warung dulu yah"
suara diseberang sana berhenti dengan nada tut...tut...tut... ibu telah mematikan teleponnya.
aku masih menangis. benarkah ini tejadi di kehidupanku ? apa ini adalah dunia mimpi dan aku belum terbangun ? atau ini salah satu episode di sinetron-sinetron ? Ya Allah, ini memang dinamika kehidupan. Aku mohon lindungilah ibu dan adik-adikku ya Allah. Aku janji, selepas aku dari sini, akan ku lepas ibuku dari jeratannya. Aku gamau ibu kenapa-napa. Aku cuman punya ibu. Ayah udah ngga ada. Dan aku harus ngejaga mereka.. ingin rasanya aku nyanyikan sajak dibawah, setidaknya untuk mewakili rasa piluku terhadap apa yang terjadi saat ini. Ibu, aku ingin memelukmu, dan aku ingin menjadi sandaranmu kala kau menangis. Ibu kau sosok yang super. Aku mau menjadi sepertimu, Ibu :(



SAJAK BUAT BAPAK TIRI

Pagi ini yang dingin, bergulir siang yang terik
kau disana dengan dengki yang menarik-narik
sedang aku disini hilang kendali, tercabik-cabik
mentari makin condong ke barat
cekikanmu makin kuat
aku sudah tak kuat, aku sudah tak sehat, makin melarat
kau itu harusnya perisai
kau itu tudungsaji yang melindungi satai dan petai
kau itu galah saat kami lunglai
bukannya membantai
dan hidup berkalang bangkai
pak, aku ingin melihat sinar mentari esok
aku masih mau bernafas walau terseok
pak, kasihani saya dan ibu saya
bapak saya telah mati pak,
jangan tambahi beban kami
ibuku makin sayu
padahal kemarin ibu senyum melulu
ibuku makin kurus
pipinya tirus
pak, dimana hatimu
dimana semua janjimu
hatimu mungkin sudah beku
janjimu sudah tak berlaku
pak, bukan nanti yang aku cari
tapi
aku mau besok aku masih melihat matahari
dan ibu senyum lagi
jangan sakiti lagi
kasihani kami
karena bapakku telah mati
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 07.01 2 komentar
Label: Curhats, Puisi

Kamis, 27 September 2012

Dengan Sepedaku

Jalan jauh menanjak
kulihat dari sini diatas tanah sepetak
pedal keras kuinjak
bebatuan panas terinjak
jalan menyusur jauh
harus ditempuh dengan sejuta peluh
ku kayuh
mengayuh sampai diujung jauh
bola mata merekam semua jalan
iramanya sepadan
dengan alur hatiku dan keringat disekujur badan
ingatan dan kesaksian berserakan
berantakan seiring perut yang mengoyak kelaparan
oh Tuhaaaan
begitu masih panjang ini jalan
haruskah aku mengayuh sendiri
dibawah langitmu yang kokoh berdiri
dan mataharimu yang terik menyinari
aku di giring sendiri
ke tempat yang sunyi sepi
hanya aku yang kesana datang
bawa semua kesaksian
ya Tuhan
jalan ini panjang sekali
aku lelah dan ingin segera akhiri
sepedaku terlalu renta
kalbuku sudah buta
badanku sudah tua
ya Tuhan
panggillah aku segera
aku ingin disana
denganmu dan sepedaku
dalam nirwana

Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 18.06 0 komentar
Label: Puisi

Minggu, 23 September 2012

Rasanya Masih Sama

Berharap itu menyakitkan,
memang, itu pekerjaan sambilanku
miris memang
galau juga bikin sakit kepala
sakit hati yang tak reda-reda
benar-benar kualahan menghadapi dia
aku kira disini aku akan bahagia
atau setidaknya merasakan hidup damai
tanpa ada yang mengganggu
termasuk cinta
persetan sekali lagi dengan hal munafik itu
mencinta sama dengan sakit hati
awalnya memang indah
lama-lama pasti merasa gundah
awalnya dan rencananya aku tak mau main api
aku takut bakal tersakiti
dan lukanya susah diobati
bagaimanapun caranya
bagaimanapun sikapnya
yang namanya sakit hati itu sama
sakit
aku mau mengubur dia dalam-dalam
awal yang tak kenal
harus mengalir seperti dulu
jadi tak kenal lagi
anggap kita tak pernah ketemu
anggap waktu itu adalah aku yang palsu
jangan hinggap lagi di otakku
jangan muncul lagi dipikiranku
aku pada jalanku
dan mencari kesungguhan dari sesuatu yang baru
bagaimana denganmu
aku tidakmau tau
rasa sakit itu masih sama
dimanapun berada
siapa yang terlibat
tak ada yang beda
mereka lah yang berani sakit hati
orang-orang yang kukuh mencari hati
tapi aku cukup pengecut
aku takut sakit-sakit itu merenggut
menjadi pecut-pecut yang siap mengocak hatiku nanti yang ciut
aku tak mau gila lagi
aku ttak mau sakit lagi
aku tak mau kenal kamu lagi
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 22.54 0 komentar
Label: Puisi

Jumat, 21 September 2012

DOA JUMAT PAGI



Udara menusuk ranum-ranum jiwa
Wanginya yang setiap orang suka
Hari ini di jumat yang sentausa
Berjuta orang khidmat dengan doanya
Anak-anak lari ke sekolah
Kaum petani pergai kesawah
Warna hari ini semoga indah
Tak ada duka
Yang ada hanya gembira
Setiap orang tersenyum
Alampun tersemyum
Jumat pagi yang tak sepi
Pagi cerah pembawa berkah
Jika siang mendung semoga malam tetap beruntung
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 06.30 0 komentar
Label: Puisi

Kamis, 20 September 2012

Seharusnya tidak begini


Malam itu, Tiana menyendiri di kamarnya. Dia termenung, meratap dan seolah menyesal. Airmatanya mulai menetes. Satu tetes, dua tetes, kemudian deras. Menangislah dia tersedu-sedu.
Awalnya dia senang karena dia bisa berkopi darat dengan lelaki yang telah lama ia kenal lewat jejaring sosial Facebook. Awal perkenalan yang biasa saja, mungkin saking penasarannya Tiana sering membuka akun facebook si lelaki itu. Sehingga ia mulai menaruh simpati yang lebih terhadapnya.
Namanya Gaary, lelaki yang sedang mengenyam pendidikan di fakultas ekonomi, di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Memang dia yang memulai semuanya. Mulai dari menambah pertemanan sampai ke chatting. Gaary adalah sosok lelaki yang baik, supel, pintar dan dia berasal dari golongan yang berada.
Di siang yang cukup melelahkan, Tiana sedang duduk di lorong koridor kampusnya sambil iseng membuka akun faceboooknya. Tiana adalah seorang mahasiswi jurusan sastra di Universitas negeri di Jakarta. Tiba-tiba WIIIINK, ada seseorang yang memberi chat padanya.
Gaary Alamsyah
Ø  Hai Tianaaa
Tiana sontak kaget, tapi dia langsung membalasnya
Tiana Prastika
Ø  Eh, hai juga Gaary, waah tumben ngachat
Gaary Alamsyah
Ø  Hehe iseng aja nih Ti, kebetulan kamu juga lagi online, makanya aku chat
Ø  Gimana kuliahmu ?
Tiana Pratika
Ø  Haha kamu kaya yang ga ada kerjaan aja ya iseng
Ø  Ehm lumayan menguras waktu nih, sibuk :D
Gaary Alamsyah
Ø  Iya nih lagi free sampe minggu depan
Ø  Waaah kamu sibuk banget yah ?
Tiana Prastika
Ø  Wah enak banget free, pengeeeen
Ø  Lumayan sibuk, tapi ga pake banget :D
Gaary Alamsyah
Ø  Kalo ga sibuk, kita main yuk :D
Tiana Prastika
Ø  Main ? man kemana ?
Gaary Alamsyah
Ø  Ehmmm, ke hatimu :p
Ø  Kemana aja suka2 kamu
Ø  Eh Tiana boleh minta nomernya ga ? Biar kita ada komunikasi terus
Tiana Prastika
Ø  Oh boleh, ini 08888991122
Gaary Alamsyah
Ø  Oke, makasih Tiana, ntar aku sms kamu ya
Percakapan via dunia maya pun berakhir. Tak lama kemudian, ponsel Tiana berdering, ternyata Gaary langsung memberi pesan singkat padanya. Semakin akrablah mereka, walau hanya bisa berkomunikasi lewat Facebook atau ponsel, tapi mereka sudah sangat akrab.
Sampai, pada suatu hari Gaary mengirim sms pada Tiana
Gaary : Tia, kita main yuk, kan liburan semester nih
Tiana : Ehm, boleh main kemana ?
Gaary : Besok  kita janjian aja di deket kampusmu jam 10, gimana ?
Tiana : Oke deh
Tiana tak kepalang senangnya karena akhirnya dia bisa bertemu dengan sosok yang selama ini dikenalnya lewat dunia maya. Sepanjang malam Tiana tak bisa memjamkan matanya, dia membayangkan bagaimana besok dia akan pergi main dengan Gaary, pasti sangat menyenangkan. Tapi dia menemui satu titik dilematis. Dia takut Gaary akan kecewa dengannya. Karena Tiana merasa ia sangat berbeda dengan Gaary. Tapi segeralah ia tepis prasangka buruknya. Ia hanya membayangkan betapa serunya “kencan” pertamanya dengan orang yang dikenalnya melalui dunia maya.
Keesokan harinya, Tiana sudah berdiri di depan halte depan kampusnya. Jakarta sudah mulai terik, tapi sosok Gaary belum juga datang. Saking tak sabarnya, Tiana mengirim sms pada Gaary
Tiana : Gaar, aku udah di halte, pake baju kuning
Gaary : Oke sebentar yah, aku lagi di jalan kok, aku pake jaket biru
Kini, Tiana hanya terfokus pada pengendara motor berjaket biru. Diperhatikannya setian sepeda motor yang lewat, tak ada tanda2 bahwa itu Gaary. Mungkin dia harus bersabar lagi. Tak lama kemudian, berhentilah motor Ninja Hijau didepannya.
“Hei, Tiana !” Serunya dengan tidak jelas karena masih menggunakan helm
“Eh Gaary, lama amat sih”
“Hehe, lama ya ? maaf deh tadi lampu merahnya lama banget, ayo buruan naik !”
Tanpa ba-bi-bu Tiana naik di belakang Gaary. Tiana tidak menyangka pada Gaary asli yang begitu tampan, alisnya tebal, bibirnya penuh, sorot matanya yang menyeret. Dia merasa tak pantas berasa dibelakang Gaary dan berboncengan dengannya.
Tapi pagi itu, Tiana mencoba menikmati jalan-jalannya dengan sang Arjuna dunia mayanya. Ia meninggalkan sejenak perasaan tak pantasnya. Ia ingin hari ini berjalan dengan indahnya, tak peduli dengan Gaary, yang mungkin dia malu untuk bersandingan dengan Tiana. Setelah lelah berjalan2, mereka memutuskan untuk istirahat makan. Selama menunggu makanan, Tiana tak berani menatap wajah Gaary, ia takut Gaary akan mual jika melihat wajahnya. Disela-sela menunggunya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Gaary
“Hei Gaar !”
Ternyata itu teman SMA Gaary dulu, namanya Lusi
“Eh Lusi, ngapain lu disini?” tanya Gaary padanya kemudian bercipika-cipiki dengan Lusi
“Maen sih iseng, sambil nyari buku referensi buat kuliah”
“oooh, eh kenalin nih, Tiana. Tia ini Lusi temen SMA ku dulu” Gaary memperkenalkan Tiana pada Lusi
“Hai Tiana” sapa Lusi ramah
“Eh Gaar, lu ga pernah sms si Andin lagi ? dia nanyain lu tuh” Lusi memulai pembicaraan yang entah apa topiknya, Tiana berusaha menangkap percakapan mereka, namun dia tidak bisa menangkap semua isi percakapan anatara Gaary dan Lusi, karena sangking ramainya.
“haha salamin aja deh kalo ketemu” canda Gaary
“woo dasar sombong lu ah, eh gue duluan yah, masih ada janji nih”
“loh, gamau ikut gabung ama kita nih ?” bujuk Gaary
“haha makasih deh, gue gamau ngerusak acara kalian, selamat ngedate deh hehe” canda Lusi
“yaudah lu hati2 ya”
Oke, byeee!”
Lusi pun meninggalkan Gaary dan Tiana, kemudian menghilang ditelan kerumunan orang2. Tiana mencoba menangkap dan mengingat2 percakapan Lusi dan Gaary tadi. Tiana penasaran, siapa sebenarnya Andin ? jangan-jangan pacarnya, atau gebetannya atau bahkan mantannya. Tiana mengira2 dengan serius. Dia benar-benar penasaran dengan sosok Andin. Setelah makan, mereka memutuskan untuk pulang. Gaary mengantar Tiana sampai depan rumahnya.
“makasih ya Gaar, udah nemenin jalan-jalan”
“haha iya sama-sama, malah harusnya aku yg bilang begitu, kan aku yang ngajak”
Tiana hanya tersenyum paksa, ia seolah tidak ingin berpisah dengan Gaary. Ia masih ingin bersama Gaary. Tapi apakah Gaary punya perasaan yang sama dengannya, ia tak tau, ia juga tak mau keegoannya terlihat
“ehm, mau mampir dulu ga ?” tawar Tiana tak serius
“heh ngga deh makasih, ngga enak ama keluarga kamu”
“beneran nih? Haha oke yaudah klo ga mau”
“yaudah aku pulang dulu yah, bye”
“hati-hati yah”
Tiana ingin tampak mesra seperti seorang kekasih, tapi tidak mungkin.

Setelah itu, ia beranjak menuju kamarnya dan membuka laptop kemudian membuka akun Facebooknya, ia mencoba mencaritau siapa sebenarnya Andin itu. Ia sapu tiap halaman facebooknya, kemudian ia mencari tau pada akun Gaary. Ia buka semua album foto facebook Gaary, dan benar saja, banyak sekali foto-foto mesra Gaary dengan seorang wanita cantik yang entah siapa namanya. Pada hari itu Tiana belum berhasil menemukan siapa Andin.
Beberapa hari kemudian, akhirnya Tiana menemukan akun Andin, nama akunny Andini Gerossa. Tapi tidak ada satu petunjukpun tentang status dia dengan Gaary. Tapi bagaimanapun ia harus sadar diri dan mundur dari semua yang diharapkannya. Jangan sampai ia jatuh cinta pada Gaary, karena ia dan Gaary beda derajat. Ia harus sadar. Lagipula Andin jauh lebih cantik darinya, sehingga mustahil untuk Gaary melirik Tiana. Bahkan memilihnya menjadi kekasihnya. Itu mustahil. Itu hanya mimpi Tiana belaka.
Tiana sebenarnya sadar bahwa ia telah menaruh rasa pada Gaary. Tapi perasaan itu harus cepat-cepat di kubur, di bakar dan dimusnakan dari lubuk hatinya. Ia harus sadar diri.
Dimalam yang cukup dingin, Tiana menunduk dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan yang sudah terlanjur berparasit dihatinya. Namun hal itu tak mudah, ia merasa bodoh karenanya. Ia mulai tersedu, airmatanya mulai menetes, satu tetes, dua tetes, kemudian mengalir dengan derasnya. Ia masih berkemelut dengan pikirannya, Gaary pasti sudah tak mau berkomunikasi lagi dengannya. Gaary pasti merasa jijik dengannya. Tiana menangis dalam kegalauan yang mendalam. Ia harus bangkit dan melupakan Gaary. Ia mencoba menghibur dirinya sendiri dan menenangkan hatinya.
Namun tiba-tiba ponsel Tiana berdering. Ada satu pesan yang berbunyi
Gaary : Hai Tiana, Minggu besok main lagi yuk



-SELESAI-





Haha ini cerpen abal-abal selamat bingung, maklum newbie :p
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 21.32 0 komentar
Label: Cerpen, Me and My Friends, Puisi

Selasa, 16 November 2010

Malam

INGATKAN AKU SAAT TERDIAM
BISU
MALU
TAK DAPAT MENGELUARKAN SEPATAH KATAPUN
HENDAK MENANGIS
NAMUN BATINKU MELIRIH
BUAT APA AKU ADA
JIKA PENUH RATAPAN

HENDAK JADI APA AKU NANTINYA
JIKA MALAM INI AKU MENANGIS
MERACAU
MENGGILA
PUTUS ASA

RAGA PENUH LUKA
BIARLAH
JIWA DIRANGKUL NESTAPA
TAK APA

MALAM INI
ANGIN BERHEMBUS DIDALAM KESUNYIAN
ILALANG MENARI
MERABA MIMPI
DUHAI ALAM
PERKENANKAN AKU MENYANYI
MALAM INI
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 08.15 0 komentar
Label: Puisi
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod