Aku mengira kita sama-sama tahu dan sama-sama mengerti. Sama-sama paham dengan keadaan dan kenyataan. Tetapi jika perkiraanku salah, seharusnya kau tahu. Seharusnya. Dan satu hal yang disayangkan, seharusnya merupakan kata petunjuk opini.
Kamis, 02 April 2015
Senin, 30 Maret 2015
Kita adalah . . . .
Aku sama sekali tak pernah mau terjebak lagi. Sama sekali tak mau. Aku sudah cukup dapat mengecap yang namanya pahit, masam, dan getir. Aku sekali ini yakin kau tau semua maksudku. bahkan ketika aku memandangmu dalam-dalam. Ketika aku menghujamkan pandanganku tepat di bola mata kemudian aku berusaha menarikmu agar mengerti semua yang kukatakan lewat tatapan. Aku bahkan percaya kau sudah hapal dengan semuanya.
Ya, tapi aku sudah terlalu mengerti dengan semua ini. Tentang kalian yang pasti memiliki sisi berengsek yang tak bisa begitu saja dimaafkan.
Aku tak mau lagi terjebak. Aku akan membiarkan diriku mencair dan larut bersamamu. Walau sesungguhnya aku dan kamu itu bagai minyak dan air. Unsur utama kita tak dapat saling bersatu. Kau tahu maksudku? Aku yakin dan percaya, kau pasti tahu.
Tak ada yang kuungkapkan. Tak akan ada hal yang akan membuatku demikian. Kita akan berjalan beriringan. Entah kenapa, aku hanya ingin tertawa dan membiarkanmu tumpah padaku selalu. Betapa diksi dapat membuat kita terdiam (Kiki, 2015). Betapa situasi tak dapat terwakilkan oleh bahasa. Ya, kita hanya terdiam dalam diam. Atau hanya aku yang diam? Atau hanya aku yang ternggelam. Atau hanya aku yang . . . .
Sekali ini aku akan membiarkan nafasku larut dan membiarkanku berjalan sesuai waktu. Aku akan beku oleh waktu. Tak akan memaksamu. Karena pada hakikatnya kita adalah unsur yang tak dapat bersatu.
Ya, tapi aku sudah terlalu mengerti dengan semua ini. Tentang kalian yang pasti memiliki sisi berengsek yang tak bisa begitu saja dimaafkan.
Aku tak mau lagi terjebak. Aku akan membiarkan diriku mencair dan larut bersamamu. Walau sesungguhnya aku dan kamu itu bagai minyak dan air. Unsur utama kita tak dapat saling bersatu. Kau tahu maksudku? Aku yakin dan percaya, kau pasti tahu.
Tak ada yang kuungkapkan. Tak akan ada hal yang akan membuatku demikian. Kita akan berjalan beriringan. Entah kenapa, aku hanya ingin tertawa dan membiarkanmu tumpah padaku selalu. Betapa diksi dapat membuat kita terdiam (Kiki, 2015). Betapa situasi tak dapat terwakilkan oleh bahasa. Ya, kita hanya terdiam dalam diam. Atau hanya aku yang diam? Atau hanya aku yang ternggelam. Atau hanya aku yang . . . .
Sekali ini aku akan membiarkan nafasku larut dan membiarkanku berjalan sesuai waktu. Aku akan beku oleh waktu. Tak akan memaksamu. Karena pada hakikatnya kita adalah unsur yang tak dapat bersatu.
Kala
Kemudian hening dalam hitam
Tak ada pusing atau pening
Hanya diam dalam hitam
Malamnya cepat datang
Tanpa bersua senja
Harinya usai
Ia berusaha ada
Dengan energi yang nyaris tak bersisa
Entah kenapa aku diam dalam hitam
Dalam-dalam dalam hitam
Tak ada pusing atau pening
Hanya diam dalam hitam
Malamnya cepat datang
Tanpa bersua senja
Harinya usai
Ia berusaha ada
Dengan energi yang nyaris tak bersisa
Entah kenapa aku diam dalam hitam
Dalam-dalam dalam hitam
Kamis, 19 Februari 2015
Bukan Kata Tetapi Rasa
Jelas hal ini tak bisa
kuutarakan begitu saja lewat kata. Bahkan rasanya tak ada yang dapat mewakili
satu kesatuan rasa ini. Sama sekali tak ada. Aku ingin seperti ini, tapi aku
tak yakin bisa. Aku ingin seperti itu, tapi aku tak yakin rela. Tahun ketiga.
Masih saja memendam rasa? Bukan tak ingin. Sering kali rasanya aku menepis
semua keinginan dan kembali pada kenyataan. Namun, ah, sukar rasanya. Mulut
dapat berkata. Namun rasa tak bisa berdusta. Iya, jelas.
Aku tak ingin berambisi
aku ingin dia. Aku cukup tahu diri dan berdoa agar dia selalu diberi kenyamanan
dalam hidupnya. Selalu seperti itu. Mengadu pada Tuhan pun malu rasanya. Tak
ada yang dapat kuandalkan. Tak ada yang bisa jadi jaminan.
Bukan tak ingin. Ah,
keinginan selalu disandingkan dengan egoistis. Siapa yang tak ingin. Bukan
porsiku untuk mengharapkannya. Sudah dua tahun rasa ini diaduk-aduk. Entah
bagaimana lagi aku harus berbuat. Seolah semua cara telah kugunakan dan kini
hasilnya nihil. Lebih baik diakhiri saja.
Hanya satu yang dapat
aku lakukan. Hanya mendoakan semoga dia diberikan kemudahan dan kenyamanan.
Antara ingin tapi tak bisa menggapai. Bukankah lebih baik memandang dari jauh
tanpa melupakan? Karena sesungguhnya, tak ada satu momen pun yang akan hilang
dari ingatan.
Rabu, 11 Februari 2015
JANGAN
Jangan menatapku seperti itu, batinku. Bukan apa-apa tapi aku takut aku menyalahartikan sikapmu. Ya. Seperti yang sering kulakukan. Seperti yang sudah-sudah. Aku bukan mudah jatuh cinta. Tapi aku terkadang menyalahartikan sikap. Ia tersenyum lagi. Malah lebih dalam. Hahaha. Kemudian ia tertawa dan mengacak rambutku dengan manis. Dasar. batinku.
"Kau terlihat seperti kucing yang basah kuyup", katanya. Aku malu. Jelas. Terkadang aku menatap dalam matanya. Menelisik sesuatu yang ia pikirkan. Apapun. Ya, terkadang rasa ingin tahunku berlebih-lebih.
"Bagiamana kalau kita menghabiskan sore ini. Mumpung cerah. Kau mau kemana?" Ia menyenggol lenganku
"Terserah saja" jawabku.
"Wanita mana, sih, yang tak pernah menjawab 'terserah' ketika ditanya. Sepertinya, semua wanita di dunia ini selalu mengucapkan kata kontradiktif itu" Ia tertawa renyah lagi
Aku sangat tahu dia. Seseorang yang tak pernah menunjukkan rasa marah atau kesal kepada setiap orang yang bahkan sering menyakitinya. Ia pernah bilang bahwa setiap manusia berhak berbuat sesuatu yang dianggapnya benar. Ia menganggap orang-orang itu benar dan menganggap yang ia lakukan benar. Ya, intinya ia menilai semua orang pasti melakukan hal yang benar, walau sebenarnya salah. Ah, manusia pelik.
"Kalau begitu kita ke kedai es krim saja. Biasanya wanita-wanita suka makan es krim" Ia berjalan kemudian. Ah, tidak semua wanita menyukai es krim. Tapi, karena aku mengatakan terserah, maka, keputusan sepenuhnya ada padanya.
Ia tersenyum lagi. Jangan memandangku dan menatapku sepeerti itu. Kau tahu aku mudah jatuh cinta. Kau juga tahu kita kini sering bersama. Jangan bersikap seperti itu. Nanti semuanya bisa salah pengertian. Aku tak mau memendam banyak luka lagi. Luka yang bahkan aku ciptakan sendiri.
Lalu siang semakin condong ke barat. Senja mulai merayap. Semoga semangkuk es krim nanti bisa mencairkan segala kekakuan yang ada pada kita, ya. Tapi, jangan memandangku seperti itu lagi. Nanti aku jatuh hati.
"Kau terlihat seperti kucing yang basah kuyup", katanya. Aku malu. Jelas. Terkadang aku menatap dalam matanya. Menelisik sesuatu yang ia pikirkan. Apapun. Ya, terkadang rasa ingin tahunku berlebih-lebih.
"Bagiamana kalau kita menghabiskan sore ini. Mumpung cerah. Kau mau kemana?" Ia menyenggol lenganku
"Terserah saja" jawabku.
"Wanita mana, sih, yang tak pernah menjawab 'terserah' ketika ditanya. Sepertinya, semua wanita di dunia ini selalu mengucapkan kata kontradiktif itu" Ia tertawa renyah lagi
Aku sangat tahu dia. Seseorang yang tak pernah menunjukkan rasa marah atau kesal kepada setiap orang yang bahkan sering menyakitinya. Ia pernah bilang bahwa setiap manusia berhak berbuat sesuatu yang dianggapnya benar. Ia menganggap orang-orang itu benar dan menganggap yang ia lakukan benar. Ya, intinya ia menilai semua orang pasti melakukan hal yang benar, walau sebenarnya salah. Ah, manusia pelik.
"Kalau begitu kita ke kedai es krim saja. Biasanya wanita-wanita suka makan es krim" Ia berjalan kemudian. Ah, tidak semua wanita menyukai es krim. Tapi, karena aku mengatakan terserah, maka, keputusan sepenuhnya ada padanya.
Ia tersenyum lagi. Jangan memandangku dan menatapku sepeerti itu. Kau tahu aku mudah jatuh cinta. Kau juga tahu kita kini sering bersama. Jangan bersikap seperti itu. Nanti semuanya bisa salah pengertian. Aku tak mau memendam banyak luka lagi. Luka yang bahkan aku ciptakan sendiri.
Lalu siang semakin condong ke barat. Senja mulai merayap. Semoga semangkuk es krim nanti bisa mencairkan segala kekakuan yang ada pada kita, ya. Tapi, jangan memandangku seperti itu lagi. Nanti aku jatuh hati.
Selasa, 03 Februari 2015
Atmosfer
Aku menyesap kopi
putihku di ruang tengah rumah. Kedua kakiku kuangkat ke kursi. Aku memandangi
selembar kertas, bukan kertas juga, sebuah surat, surat undangan pernikahan.
Berwarna merah muda dengan lambang hati dan dua merpati di tenganya kemudian di
dalam gambar hati terdapat dua huruf inisial kedua pengantin. Undangan lagi,
batinku. Ini sudah yang kelima di bulan ini. Musim kawin mungkin. Rasanya
enggan datang ke pesta pernikahan lagi, tapi itu adalah pesta pernikahan teman
karibku. Pesta pernikahan yang ketiga baginya. Kupikir ia tak secepat ini untuk menikah lagi.
Lamunanku seketika
dibuyarkan oleh dering telepon genggamku. Kulihat, teman karib lainku menelpon.
“Hai, pagi, Jo! Ada
apa nih pagi-pagi nelpon?” Kataku dengan nada yang memaksa semangat
“Tumben boo udah
bangun. Ntar siang ketemuan, yuk. Dua minggu, Boo, ngga ketemu, sekalian nyari
kado buat si Nat. Gue tunggu di tempat biasa ya”
“Hmmm. Jam satu ya.
Pagi masih banyak kerjaan” jawabku dengan malas
“Oke deh. Bye, Boo”
Klik
Harus mencari kado
untuk pesta perkawinan teman. Ah.
Siang meradang. terik sekali. Namun angin yang berasal dari pendingin ruangan mengalahkan segala terik.
Siang meradang. terik sekali. Namun angin yang berasal dari pendingin ruangan mengalahkan segala terik.
“Kenapa sih lu gamau
kawin?” Jovanka menimpailiku yang baru saja menaruh pantat di sofa sebuah kafe.
Kafe langganan
“Ngga mau aja. Males.
Ngeliat nyokap gue aja ribed banget deh ngurusin idup dan anak-anaknya” Aku
berseloroh kemudian mengambil buku menu. Membolak-balikkan. Ah, percuma saja
aku membolak-balikkan buku itu. Hasilnya pun aku akan memilih menu yang sama.
Aku mendengus. Menhempaskan diri ke sandaran sofa.
“Duh, Boo, kawin itu
enak lagi, gue aja ampe tiga kali. Ga betah deh single melele” Seloroh Nat. Dia
memang sudad tiga kali menikah. Dua pernikahan sebelumnya kandas dengan alasan
tidak cocok. Bukankah pernikahan itu sebuah komitmen? Seharusnya alasan yang
demikian itu tidak jadi sebab perceraian, kan? Seharusnya Nat
mempertahankannya. Entah caranya bagaimana. Dia memang player.
“Lu sih hobi. Banyak
faktor yang bikin gue memutuskan untuk tidak mengikat diri bersama laki-laki. Pertama,
kalo lu nikah, kan ga cuma sama si laki-laki aja, tapi sama emak bapaknya, ama
adek kakaknya, ama sepupunya, ama uwak bibi pak de bu denya, ama keponakannya
dan itu rumit banget lagi”
Lagi-lagi, aku
mengatakan hal yang terjadi pada orang tuaku. Pernikahan itu terlalu rumit
untuk dijalani. Buat apa menikah kalau ujung-ujungnya ada yang namanya
perceraian. Zaman sekarang, perceraian itu seperti permen yang mudah di dapat
di warung-warung . Mungkin sepuluh tahun kemudian, tidak aka nada lagi yang
namanya ulang tahun pernikahan perak atau emas. Jangankan itu, untuk menikah
sepuluh tahun pun rasanya sudah jarang. Dan mungkin sepuluh tahun kemudian,
seseorang akan punya lebih dari dua pasang kakek nenek karena orang tuanya
bercerai kemudian menikah lagi. Pernikahan itu bukan permainan anak SD yang
bisa dimulai dan diakhiri semaunya.
“Ya jangan dipikir
rumitnya dong, Boo. Emang lu ngga mau punya anak?”
“Bukannya ngegampangin
sih, but, kayanya abege abege sekarang lebih pinter bikin anak ketimbang lu lu
yang udah mau masuk tiga puluh lima. So dari pada itu bayi-bayi berujung jadi
mayat yang ngga punya kesempatan hidup, kan gue bisa adopsi. Tanpa gue mengikat
diri sama laki-laki, gue masih bisa punya anak kan?”
“Lagian lo ga kasian
ama anak-anak lo yang orang tuanya bercerai? Mereka jadi korban utama atas
keegoisan lo yang mau menikmati kenikmatan dunia sesaat” Aku menambahkan
“Duh, Boo, perasaan lu
maen cuman ama kite-kite aja deh. Lu punya pemikiran kaya gitu dari mana sih.
Ngeri gue”
“Hahah, sikap kita itu
cerminan dengan siapa kite bergaul kali. Iya emang, lu, Jovanka, dan lu
Natasya, emang temen gue dari jaman kuliah, tapi semua terjadi sejak negara api
menyerang”
Mereka melengos
mendengar candaanku yang renyah
“Seriusan kali, Boo”
Jo menyeggol lenganku
“Oke serius. Gue
memutuskan untuk tidak mengikat diri karena gue ngeliat dulu nyokap gue amat
merana setelah menikah untuk yang kedua kalinya. Setelah ditinggal mati bokap,
idup doi sih fun fun aja, malah dia keliatan lebih muda dan lebih energik. Tapi
setelah ada manusia keparat yang datang ke kehidupan gue dan mengobral janji
busuk, gue jadi males punya hubungan ama cowo. Emang sih, dulu gue paling demen
banget ngegaet cowo, tapi setelah semua hal itu terjadi, gue ngerasa semua cowo
sama. Sama-sama bakal nyakitin walaupun mereka baik. Dan gue yakin, setiap cowo
punya sisi berengseknya masing-masing. Tapi gue yakin presentase menyakitinya
bakal lebih banyak ketimbang menghargai atau menyayangi wanita”
“Ah lu mah karena
belum nyoba aja” Nat menimpali kemudian ia menyeruput jus stroberinya
“Buat apa nyoba? Bukti
real terjadi di sekeliling gue. Pernikahan coy masa mau dibuat coba-coba. Janji
sehidup semati sama Tuhan. Tapi ujung-ujungnya pisah ranjang dan cerai. Lu aja
udah dua kali cerai ama suami lu kan, Nat?”
“Ya kalo lu sayang
sama laki lu, kan lu harus merjuangin, Boo” Nat menjawab. Mengapa dia tidak
memperjuangkan dua pernikahan sebelumnya? Berarti dia tak sayang dengan
lelaki-lekakinya terdahulu, dong.
“Ketika rasa sayang
udah ngga bisa ditawar lagi. Dan rasa sayang cuman ada di mulut. Bullshit lah,
sekarang aja sayang, ntar pas udah punya anak, badan udah melar semua, rasa
sayang laki-laki bakal diobral sana-sini buat nyari yang lebih seksi. Tapi, lo
sendiri kenapa ngga merjuangin dua pernikahan lo yang sebelumnya? hahaha”
Candaku nampak renyah sekali.
“Gue ngga nyangka, Boo,
lu punya pikiran kaya gitu haha, but, gue ngehargain semua keputusan lu sih.
Toh, yang ngejalanin hidup kan lu. Tapi kalo mau dikenalin ke cowo yang udah
mapan, calling gue aja heheh” Kata Jo
“Buat apa sih
menenggelamkan diri di dalam kegelapan? Itu prinsip gue. Bagi gue, laki-laki
adalah makhluk kontradiktif. Lain di mulut lain di hati. Udah tau tukang boong,
masa masih dipercaya. Lagian, gue juga gamau nantinya kalo gue menikah terus
punya anak, anak-anak gue tersakiti dengan sikap bokap-nyokapnya, apa lu juga
mau bilang anak itu malah bikin awet perkawinan? Natasya bisa jadi buktinya”
“Intinya, gue bukannya
anti ama kalian yang menikah. Gue sangat menghargai kalian kok, kalian masih
mau beribadah dan punya niat baik untuk menyatukan dua keluarga jadi satu haha.
Ggue cuman ngambil pelajaran dari kalian aja. Dan gue gamau kejadian-kejadian
kayak gitu terjadi di hidup gue”
“Lu lebih condong ke
parno dan trauma, Boo. Padahal semua laki-laki yang deket ama lu kan ga
berengsek-berengsek amat”
“Mungkin lu benar, gue
trauma”
Ya, mungkin ketakutan
yang sedang menguasaiku. Ketakutan ini yang membuatku memandang semua lelaki
sama. Ya, memang taka da manusia yang sempurna. Namun, entah apa namanya, aku
sama sekali tak tertarik untuk membuat sebuah hubungan dengan lelaki. Aku hanya
ingin menikmati hidupku dengan berteman. Berteman yang sesungguhnya. Karena teman
dengan adanya ikatan, ikatan itu jelas akan putus sewaktu-waktu. Harus ada
berapa simpul yang terjadi untuk tetap menjaga ikatan itu utuh? Aku tak mau
tersakiti. Aku tak mau menyakiti.
Aku melayang dengan
semua keputusanku. Diiringgi tawa renyah yang semoga selalu ada untukku, Jo dan
Nat. Atmosfer ini semoga tak pernah menyakitiku, teman-temanku, keluargaku, dan semua orang di sekelilingku.
Berkemas
Aku mulai mengemas
semua barang-barangku. Rasanya aku ingin meninggalkan salah satu saja di sini
agar aku ada alasan kembali kesini. Di sini bukanlah sepenuhnya tempat yang
menyenangkan bagiku. Justru sebaliknya. Di sini terekam momen-momen dan saat-saat
yang paling sulit bagiku. Bagi Ibuku. Malam makin larut saja oleh dingin.
Seperti gula yang perlahan hilang oleh air.
Aku menatap lagi
ranselku. Sudah menggembung kini. Dua minggu terasa sekejap sekali. Ah, mengapa
aku harus mengalami masa sulit ini lagi. Mengemas. Aku paling benci mengemas.
Dalam suasana apapun. Bahkan aku benci dengan kata “mengemas” nya sekalipun.
Kadang aku menyesali semua keputusan awalku. Tapi jika tidak begini, keadaan
ini tak akan berubah malah cenderung parah.
Malam terakhir di
rumah. Seperti biasa, aku tak dapat memejamkan mata sedetikpun. Detik-detik
terakhir di rumah adalah momen yang sangat berharga. Sangat sayang jika
dihabiskan dengan terbuai dalam palsunya bunga tidur. Selalu hendak menangis
jika merasa seperti ini. Tapi, aku harusnya malu dengan semua ucapanku dulu.
Aku kini merasa kehilangan saat berharga bersama Ibu. Dia makin tua dan renta.
Makin cepat lelah. Ditambah tak ada seorangpun yang menemani kini. Siapa yang
tak berlinang air mata kala melihat sang ibunda merana sendiri. Yang kadang
terdenagr sehat dan baik jika berkomunikasi via ponsel atau pesan singkat. Ia
seolah baik saja. Padahal aku kini sudah dewasa, aku jelas tau apa yang ia rasa
dan ia hadapi.
Ya, tapi benar. Ini
takdir, ini garis. Ini rel. Kita memang harus berjalan pada jalurnya
masing-masing. Walau risau, aku yakin dia akan terus mengembangkan senyum
terlebarnya demi anak-anaknya. Apa pun akan diraihnya demi anaknya, bahkan
nyawa taruhannya. Walau kadang aku sangat tak setuju dengan itu. Aku masih
ingin menghabiskan waktu banyak dengannya dan pasti ingin membuatnya bahagia.
Ah, hanya
membayangkannya pun basah sudah pipi ini oleh riak-riak di mata. Padahal sama
sekali aku tak ingin melihat wajah ibu karena itu. Karena aku tak ingin
berlinang-linang. Cengeng.
Malam sudah menuju
pukul tiga. Besok, mungkin aku sudah sampai di tempat tujuan dan bersiap
menyambung lagi tali rejeki. Meninggalkan ia yang tak tau minggu depan harus
bernaung di mana. Rumah ini sudah diminta yang punya. Meninggalkannya dalam
beban yang cukup membuatnya tersengal. Entah mengapa dan ini yang membuatku tak
habis pikir, ia bilang “Aku akan baik-baik saja, aku bisa tinggal di manapun.
Asalkan kamu tetap tak kepanasan dan tak kedinginan” kata-kata ibu bak api yang
menghangatkan es yang menjadikan es melebur. Aku masih pada riak-riak air mata
dan rasa pening di kepala.
“Kau belum tidur,
Nak?” rupa-rupanya ibuku terbangun. Mungkin karena aku terisak cukup keras. Aku
tergesa menyeka air mata
“Aku tak bisa tidur,
Ibu. Mungkin tak akan tidur” aku menjawab dengan hati-hati agar suara sengauku
tak terlalu kentara. Ia hanya tersenyum dan pergi ke dapur. Aku mendengarnya
menyalakan kompor. Mungkin ia hendak sahur untuk puasa sunah besok. Aku juga
mendengar suara keran kamar mandi terbuka. Sepertinya ia akan salat malam. Aku
masih diam menikmati waktu-waktu terakhir berada di sini bersama ibu dan
melihat senyumnya.
Tak selang sepuluh
menit ia kembali ke kamarku dengan membawa secangkir teh.
“Di minum, mumpung
masih hangat” kata-kata itu selalu akan kurindukan. Ia selalu berkata agar
lekas menghabiskan hidangan yang ia masak selagi hangat. Katanya, makanan
hangat selalu terasa enak dan nikmat. Ya memang, Bu. Batinku jika ia berkata
demikian.
Setelah salat malam,
ia kembali ke kamarku. Ia mengecek kemasanku. Takutnya ada yang tertinggal.
“Sudah semua kan?
Jangan sampai ada yang tertinggal” katanya. Aku benci kepura-puraan. Aku tau
Ibu mengerti menagapa aku masih terjaga sampai sekarang. Namun, seolah ia tak
mengerti apa-apa.
“Sana mandi, nanti ketinggalan
bis” Aku tau ia pun amat berat meninggalkan aku. Tapi ini namanya jalan.
Aku bergegas menyambar handuk. Air dingin yang menusuk sampai tulang menyadarkanku bahwa ini adalah suratan.
Surya mulai tergelincir menuju pagi. Masih termalu-malu rupanya. Ibu menatapku. Aku memeluk Ibu dalam-dalam, lekat-lekat di ambang pintu.
Aku bergegas menyambar handuk. Air dingin yang menusuk sampai tulang menyadarkanku bahwa ini adalah suratan.
Surya mulai tergelincir menuju pagi. Masih termalu-malu rupanya. Ibu menatapku. Aku memeluk Ibu dalam-dalam, lekat-lekat di ambang pintu.
“Ibu hati-hati ya.
Jaga diri baik-baik. Jangan telat makan” kataku gemetar
“Aku akan merindukan
ibu. Aku tak tahu kapan kita dapat berjumpa dan berkumpul lagi”
“Ibu selalu mendoakan
kesuksesan, kesehatan, dan kebahagiaanmu, Nak. Jika padawaktu, kita pasti akan
berkumpul lagi” jawabnya tenang.
Aku mencium punggung
tangan Ibu lama-lama, lekat-lekat. Aku bergegas melangkah sebalum mentari
menampakkan wajahnya. Pagi ini cukup dingin. Namun aku akan selalu mengantongi
kehangatan Ibu.
Langganan:
Postingan (Atom)