skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Fraintika Anggraeni
Fraintika Anggraeni kerap disapa Weje, Atun, atau Tuk-tuk. Punya persepsi sendiri tentang segala hal, tapi selalu terbuka terhadap persepsi orang lain. Tiap tahun ada masanya. Tiap masa ada tahunnya. Belajar legowo dan terima kenyataan :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Kalendar

research paper essay Free Calendar

Clock clock

Archivo del blog

  • ▼ 2017 (7)
    • ▼ September (1)
      • YOU JUST ONLY HAVE ONE LIFE, JUST LOVE WHAT YOU DO...
    • ► Agustus (1)
    • ► Januari (5)
  • ► 2016 (13)
    • ► Desember (4)
    • ► April (1)
    • ► Maret (3)
    • ► Februari (2)
    • ► Januari (3)
  • ► 2015 (14)
    • ► September (2)
    • ► Juni (2)
    • ► Mei (2)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)
    • ► Februari (4)
  • ► 2014 (49)
    • ► November (2)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (3)
    • ► Juni (11)
    • ► Mei (4)
    • ► April (11)
    • ► Maret (6)
    • ► Februari (4)
    • ► Januari (6)
  • ► 2013 (40)
    • ► November (5)
    • ► Oktober (3)
    • ► September (3)
    • ► Juli (3)
    • ► Februari (23)
    • ► Januari (3)
  • ► 2012 (30)
    • ► Desember (1)
    • ► November (11)
    • ► Oktober (6)
    • ► September (12)
  • ► 2010 (2)
    • ► November (1)
    • ► September (1)

Label

  • Cerpen (2)
  • Curhats (30)
  • Informatif (2)
  • Me and My Friends (7)
  • Owl City Lyrics (5)
  • Puisi (11)

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Info

Rumah Dijual di Bintaro

Pengunjung

Lencana Facebook

Fraintika Anggraeni

Buat Lencana Anda

F R A I ' S

Ketika perkataan bisa berubah di lidah, namun dalam aksara, kata akan tetap sama :)

Kamis, 31 Oktober 2013

KEDUDUKAN DIALEK BANYUMASAN SAAT INI


Fraintika Anggraeni
12/329050/SA/16357
Sastra Indonesia

Abstrak
Artikel ini membahas tentang dialek Banyumasan dan permasalahannya. Tulisan ini juga membahas pembantahan dialek banyumasan sebagai dialek yang terbelakang. Daerah pengguna dialek banyumasan, asal-usul dialek banyumasan, cara menyikapi dan merubah pandangan tentang dialek tersebut pula akan dibahas berdasarkan teori dan pendapat dari berbagai referensi.
Kata kunci: Dialek, Dialek Banyumasan, Ngapak
A.    Pendahuluan

Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan kelompok masyarakat tertentu dalam konteks situasi pemakaian yang berbeda. Sedangkan menurut Panitia Atlas Bahasa-bahasa Eropa dalam Ayatrohaedi adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan sebagai sistem kebahasaan yang dipergunakan oleh suatu masyarakat yang bertetangga yang mempergunakan sistem berlainan walaupun erat hubungannya. Faktor penyebab perbedaan dialek dengan variasi bahasa yang lain adalah perbedaan fonologi, morfologi, fonetik, semantik. Tempat atau lokasi, perpindahan penduduk dan perubahan lokasi pemukiman, perbedaan status sosial juga termasuk faktor penyebab dialek berbeda dengan variasi bahasa yang lain.
            Ada dua ciri yang dimiliki dialek, yaitu (1)  dialek ialah seperangkat bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda yang memilikiciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip sesamanya dibandingkan denganbentuk ujaran lain dari bahasa yang sama. (2) dialek tidak harus mengambil semua bentuk ujaran dari sebuah bahasa. Ada beragam dialek di tanah Jawa ini, misalnya dialek Surakartaan, dialek Yogyakartaan, dialek Semarangan, dialek Banyumasan, dan dialek Jawa Timuran. Diantara dialek yang ada, dialek Banyumasanlah yang paling lugu dan yang paling tidak banyak memiliki cengkok baik dalam tata bunyi maupun tata fonemnya. Hal ini dikarenakan cengkok fonemnya tertimpa oleh ketebalan bunyi ucapannya yang kental dan lengket (Herusatoto,  2008:163). Menurut Herusatoto pula, yang memberi istilah Ngapak untuk dialek Banyumasan adalah para priyayi wetanan yang berbahasa jawa mbandhek. Disebut ngapak karena pengucapan vokal a dan o dan konsonan b, d, g, h, k, y, l, dan w sangat mantap, tegas, lugas, dan tidak mengambang (Herusatoto, 2008:6)
            Pepatah mengatakan “Basa Busananing Bangsa” yang berarti  bahasa menunjukkan identitas bangsa, dengan begitu masing-masing tahapan bahasa Jawa membawa perkembangan kebudayaan bangsa. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai bahasa Jawa dialek Banyumasan atau dikenal sebagai dialek ngapak. Pertama, akan menjelaskan tentang daerah-daerah yang menggunakan bahasa jawa dialek Banyumasan, kemudian perbedaan antara bahasa jawa dialek Banyumasan dengan bahasa jawa dialek yang lain, dan permasalahan-permasalahan dialek Banyumasan.
           
B.     Daerah Pengguna Dialek Banyumasan

Dialek Banyumasan atau dialek ngapak digunakan oleh daerah yang letak geografisnya berada di barat Jawa Tengah atau di perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah, yaitu sekitar Tegal, Brebes Cilacap, Kebumen, Kroya dan sekitarnya. Dialek Banyumasan dibagi menjadi empat sub-dialek utama, yaitu Wilayah Utara, Wilayah Selatan, Cirebon-Indramayu, dan Banten Utara.
            Wilayah Utara meliputi Tanjung, Ketanggungan, Larangan, Brebes, Slawi, Moga, Pemalang, Surodadi dan Tegal. Wilayah Selatan meliputi Bumiayu, Karang Pucung, Cilacap, Nusakambangan, Kroya, Ajibarang,  Purwokerto, Purbalingga, Bobotsari, Banjarnegara, Purworejo, Kebumen, Gombong. Wilayah Cirebon-Indramayu meliputi Cirebon dan sekitarnya dan Indramayu atau daerah-daerah setempat di wilayah Jawa Barat. Wilayah Banten Utara dituturkan di wilayah Banten yang secara administratif termasuk dalam provinsi Banten.

C.     Perbedaan Bahasa Banyumasan dengan Bahasa Jawa lain

Pada hakikatnya, bahasa Jawa dialek banyumasan tidak banyak berbeda dengan dialek lainnya. Ciri khas dari dialek ini berkembang hanya di wilayah sekitar Banyumas. Namun, dialek Banyumasan mempunyai kekhasan sebagai wahana budaya masyarakatnya yang tidak dimiliki oleh bahasa Jawa mbandhek. Sejumlah leksikon, struktur fonemis, dan intonasi dialek Banyumasan yang khas merupakan unsur-unsur yang dapat dibanggakan. Dialek ini memiliki karakter lugu, terbuka, dan apa adanya, mendapat pengaruh dari bahasa Jawa kuno, Jawa Tengahan dan bahasa Sunda, pengucapan konsonan di akhir kata dibaca tegas, mantap, dan jelas hal  ini yang menyebabkan bahasa Jawa dialek banyumasan disebut ‘ngapak’, pengucapan vokal dibaca tegas, mantap, dan jelas pula.


Contohnya:
Dialek Banyumasan
Bahasa Jawa Baku
Bahasa Indonesia
Inyong
Aku
Saya
Rika
Koe
Kamu
Agéh
Ayo
Ayo
Ndisit
Ndisik
Dulu/Dahulu
Clebek
Kopi
Kopi
Ambring
Sepi
Sepi
Londhog
Alon
Pelan
Dhongé
Kudune
Seharusnya
Gableg
Dhuwe
Punya
Gutul
Tekan
Datang
Kiyé
Iki
Ini
Kuwé
Iku
Itu
















Ciri khas lain dari dialek Banyumasan adalah, jika dalam bahasa jawa pada umumnya akhiran ‘a’ dibaca ‘o’, dalam dialek Banyumasan akhiran ‘a’ tetap di baca ‘a’


Dialek Banyumasan
Bahasa Jawa Baku
Bahasa Indonesia
Aja [αjα]
Ojo [ɔjɔ]
Jangan
Ana [αnα]
Ono [ɔnɔ]
Ada
Lara [lαrα]
Loro [lɔrɔ]
Sakit
Sapa [sαpα]
Sopo [sɔpɔ]
Dulu/Dahulu
Kaya [kαyαɁ]
Koyo [kɔyɔɁ]
Seperti
Apa [αpα]
Opo [ɔpɔ]
Apa
Ya [yα]
Yo [yɔ]
Iya











Alasan yang menjadikan dialek Banyumasan tetap membaca ‘a’ pada akhiran ‘a’ adalah bahasa jawa dengan dialek Banyumas masih terpengaruh bahasa Sunda. Hal itu jelas bisa dilihat dari letak geografisnya, yaitu letak daerah pengguna dialek Banyumasan, berbatasan dengan jawa barat.
            Namun, walaupun sesama dialek Banyumasan atau ngapak, di setiap sub-dialek utamanya pasti berbeda aksen bahasanya. Misalnya, aksen  daerah selatan seperti Cilacap berbeda dengan warna aksen Brebes. Dalam sub-dialek utara dan selatan aksennya lebih tebal dan berwarna jika di bandingkankan dengan aksen Cirebon. Aksen Cirebon lebih menjorok ke aksen Jawa Barat, bahasa yang digunakan pula campuran antra bahasa Jawa dan Sunda.  Bahasa yang digunakan ada perbedaan pula. Jika di daerah Cilacap menggunakan kata kepriwe (bagaimana), di daerah Brebes menggunakan kata kepriben. Jika di daerah Purbalingga menggunakan kata inyong (aku), di daerah Cirebon menggunakan kata insun.

D.    Permasalahan Dialek Banyumasan

Tidak sedikit kaum penutur dialek Banyumasan yang merasa malu, rendah diri dan merasa kuno jika menggunakan dialeknya dalam berinteraksi lintas dialek, dengan penutur Yogyakartaan misalnya. Mereka terkadang menyembunyikan identitas mereka karena tidak ingin dianggap sebagai orang terbelakang, khususnya akum wanita. Mereka merasa paras ayu mereka tidak cocok bahkan tidak pantas jika berdialek dengan dialek ngapak. Mereka akan merasa akan banyak yang mencemooh. Padahal bahasa atau dialek bukan ukuran kemajuan seseorang. Kembali lagi, bahasa merupakan suatu identitas.
            Dewasa ini juga, banyak orangtua yang enggan mengajarkan dialek Banyumasan kepada anak-anaknya, sehingga timbul kekhawatiran akan punahnya dialek ini. Para orangtua di area perkotaan lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya sebagai bahasa yang digunakan di masyarakat umum. Kebanggaan berbahasa, di samping kesadaran norma dan loyalitas bahasa, merupakan faktor yang sangat penting bagi keberhasilan usaha pemertahanan sebauah bahasa dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal dari masyarakat yang memiliki bahasa dominan (Wijana dan Rohmadi, 2006:90).
            Bangsa Indonesia adalah bangsa multikultur dan multietnik, tidak terdiri satu budaya. Akan tetapi ada banyak budaya yang mewarnai Indonesia, sehingga perbedaan bukan merupakan halangan dan hambatan dalam bersosialisasi. Setiap suku dan etnik memiliki bahasa yang berbeda-beda yang menjadi identitas budaya di daerah tersebut. Perbedaan bukan menjadi pembuat konflik atau upaya saling merendahkan dan menjatuhkan. Justru seharusnya perbedaan menjadi sebuah tali pengikat kebersamaan.
            Bahasa merupakan identitas suatu bangsa.Dimana bahasa itu dipakai dan digunakan dari situlah bahasa tersebut berasal. Bahasa juga merupakan suatu keunikan dan kekhasan yang dimiliki suatu bangsa. Bahasa bersifat arbitrer. Ia mampu menghasilkan sistem budaya baru yang akan menandakan bagaimana budaya tersebut tumbuh dalam masyarakat. Jawa tengah bagian barat memiliki dialek jawa yang khas dibandingkan dengan dengan bahasa jawa standar yang dipakai di wilayah jawa tengah yang lain.
            Bahasa Jawa dengan dialek banyumasan merupakan aset budaya yang nyaris terancam keberadaannya. Banyak orang memandang sebelah mata dialek Banyumasan. Dalam suatu kasus, seorang pengguna dialek banyumasan merasa malu jika ia menggunakan dialeknya di luar lingkup daerahnya. Sebenarnya, tidak perlu berkecil hati atau berendah diri jika memang berdialek Banyumasan. Tidak ada yang salah dengan dialek tersebut. Hal ini dikarenakan dialek adalah sebuah identitas bangsa.

E.     Pertahanan bagi Dialek Banyumasan

Banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya modernisasi. Orang-orang menganggap, salah satu bahasa modern adalah bahasa Inggris, sehingga mereka melupakan bahasa Ibunya. Karena Maju mundurnya sutu bahasa tergantung pada tiap pemakai bahasa (Pateda. 1987:25). Itu berarti jika suatu penutur tetap memakai bahasanya secara konsisten dan menurunkannya kepada generasi selanjutnya, bahasa tersebut akan maju. Hal itulah yang terjadi pada bahasa yang dianggap modern dan maju. Bahasa-bahasa tersebut terus menerus dituturkan dan diajarkan agar tidak punah. Bahasa Lokal Indonesia pun bisa, jika penuturnya secara konsisten merawatnya. Untuk mempertahankan dialek Banyumas, kebijakan pembinaan bahasa Jawa, haruslah memberi peluang yang seluas-luasnya bagi penutur-penuturnya untuk menggunakan dialek Banyumassehingga dialek ini bisa menjadi alat komunikasi yang utama dalam ranah keluarga dan masyarakatdalam pengembangan budaya lokalnya (Mei dalam Wijana dan Rohmadi, 2006:89).
            Anggapan bahwa dialek banyumasan sebagai bahasa kelas bawah dan proletar juga menjadi faktornya. Namun, di balik itu semua, dialek banyumasan merupakan budaya yang harus dilestarikan. Modernisasi dan anggapan tersebut dapat membuat menngerus dan memunahkan aset budaya jawa tersebut. Tugas bangsa Indonesia atau penuturnya adalah tetap mempertahankan eksistensi dialek Banyumasan dengan cara tetap menggunakan dialek tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pemeliharaan sebuah bahasa tidak cukup hanya dengan usaha mendeskripsikan sistem kebahasaan dan wilayah pemakainya, seperti yang telah dilakukan para ahli bahasa selama ini (Wijana dan Rohmadi, 2006:89).  Tidak perlu gengsi atau sebagainya, jika setiap penutur mengedepankan gengsi 20 tahun kedepan dialek Banyumasan akan benar-benar menghilang dari daftar kekayaan budaya Indonesia. Itu berarti dialek Banyumasan menjadi salah satu dari 724 bahasa yang nyaris punah di Indonesia.
            Tidak benar dialek banyumasan adalah bahasa kaum proletar. Untuk menghindari dan merubah pola pikir tersebut, perlu diketahui bagaimana sejarah munculnya dialek tersebut. Logat Banyumasan adalah logat jawa tertua. Dialek Banyumasan masih berkaitan erat dengat nenek moyang bahasa Jawa yaitu bahasa Kawi/Sanskerta, sehingga kata-kata yang digunakan masih sederhana. Dahulu pengguna dialek tersebut memang dari golongan petani, sebelum masuknya masa kerajaan jawaDahulu, bahasa jawa hampir tidak memiliki perbedaan antara bahasa ngoko (sehari-hari) dengan bahasa inggil (penghalusan). Namun, setelah kerajaan memasuki jawa, bahasa jawa mengalami penghalusan, yaitu perbedaan pengucapan antara rakyat biasa dengan keluarga kerajaan tetapi memiliki makna yang sama. Hal tersebut seharusnya dijadikan penghargaan tersendiri sebagai upaya pelestarian dialek Banyumasan.



F.      Simpulan

Tulisan ini hanya membahas sebagian kecil dari permasalahan dialek yang ada di Indonesia, khususnya dialek banyumasan. Dialek Banyumasan harus dipelihara agar eksistensi dan kelestariannya tetap terjaga. Masih banyak permasalahan mengenai budaya di Indonesia yang sudah seharusnya dikupas dan diselesaikan oleh para generasi penerus. Sebenarnya, tidak perlu berkecil hati atau berendah diri jika memang berdialek Banyumasan. Tidak ada yang salah dengan dialek tersebut. Hal ini dikarenakan dialek adalah sebuah identitas bangsa


DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi.1979. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Herusatoto, Boediono. 2008. Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa dan Karakter. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara
Keraf. Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia
Pateda, Mansoer.1987. Sosiolingusitik. Bandung: Penerbit Angkasa


SUMBER ACUAN LAIN

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Banyumasan
d.scribd.com/doc/55407547/Makalah-Dialek-Banyumasan

http://bahasa.kompasiana.com/2013/09/04/bahasa-dialek-banyumasan-kesan-bahasa-kelas-2-yang-harus-diluruskan-588677.html
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 12.26 1 komentar

Rabu, 30 Oktober 2013

Sore-sore, At Bangjo setelah Hujan

Pusing dan banyak pikiran. Aku stak.
Antara rindu yang menggebu dan tugas yang meronta-ronta minta segera tuntas.
Cukup butuh diam dan sepi.
Dan kamu di sisi.
Aku senyum. Aku semangat.
Tapi...
Nyatanya aku gila
Kamu juga gila
Aku gila kamu
Kamu gila dia
Kita masing-masing gila
"you and i met passing by and now our spirits feel warm"
-The Christmas Song, Owl City-
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 16.51 0 komentar

Rabu, 02 Oktober 2013


Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 23.59 0 komentar

Minggu, 22 September 2013

Kado buat Coach

Sebenernya Mas Dyas, coach battery 2013 bukan ulangtahun hari ini, melainkan tanggal 18 September kemaren. Gue padahal udah nyari tanggal ulangtahunnya dari awal gue jadi seclead, tapi ga nemu-nemu. Gue cari di twitter ga ada, di facebook ga ada, di DAA ga ada, googling ga ada, udah deuh waktu itu gue nyaris putus asa.
Tadinya gue mau nanya PH terkait hal  itu, tapi gue ngga cukup berani. Ehm sebenernya waktu itu gue nemu sih, cuman bulan ama taunnya aja. September 92, yaudah itu jadi patokan gue.

Udah sebodo amat lah waktu itu ama dia. Toh, dia juga orangnya tertutup. Kalo gue nanya-nanya, dikira apa-apa ntar -_-

Sampe akhirnya, karantina kemaren, hari terakhir, Mbak Lia, Sekretaris Umum bilang, "Batt, pelatihmu ultah loh" dalem hati gue, oalah, ternyata tanggal 18 toh, dan raut mukanya dia tuh biasa aja gitu, ngga kaya lagi ulangtahun. Ya emang sih ngga ada keharusan terkesan bahagia saat ulangtahun. Setiap orang juga nanggepinnya beda-beda.

Sebenernya sih gue udah berencana bikin surprise atau apalah gitu -awalnya pengen ngerjain kaya mas bagus gitu pake telor-teloran, tapi takut kualat- tapi ide gue sudah keburu di cetuskan oleh natan dan zumar saat perjalanan pulang dari mess karantina di Magelang menuju Jogja. Gue sih mengiyakan saja. Mereka berniat ngasih kado kan, nah gue mikir, kadonya apa dong ? dia kan orangnya tertutup. Ga mungkin blak-blakan jugak.

Natan milihnya sepatu, entah kenapa ya, mungkin karena sepatu doi udah rusak haha :p kalo Zumar milih beliin stick, gue ga setuju kalo stick, toh dia yang lebih paham hal begituan, lagian, stick tuh cepet rusak kalo buat dia, jadi percuma. Nah, gue sendiri lebih milih jam tangan. Kenapa ? Karena itu yang paling netral, ga gampang rusak, gampang di cari dan dia pasti suka, maksudnya dia ngga kecewa-kecewa amat lah haha :D

Nah, pada saat di bis itu juga, gue langsung jarkom anak batt, suruh vote, antara stick, jam tangan ama sepatu, dan hasil terbanyaknya adalah JAM TANGAN, yeaaaay. Ga gampang loh memutuskannya. Galu setengah mati coy, buat coach loh. Ya walau dia juga  pasti nerima-nerima aja kalo di kasih, tapi seenggaknya, ini mewakilkan rasa apresiatif kami ke dia haha. Gue nanya mbak Bella juga, dia nyuruhnya beli sepatu, gue tanya Kikik juga suruhnya sepatu. Tapi budgetnya ngga memungkinkan. yaudah akhirnya dengan buletnya~ gue memutuskan untuk beli jam tangan. Oh iya, tadinya mau beliin stick aja, nah, gue tuh iseng nanya dia dulu, minta pendapat gitu ceritanya, stick apa yang bagus, eh dia jawab gini "Kalo mau yang aku aja nih beli" gue balik nanya "stickmu baru, Mas ?" dan di jawab "Iya nih, baru dibayar" Aseng. untung ngga jadi beli hahaha.
Hal itu juga yang memperkuat gue kenapa milihnya jam tangan.

Masalha satu beres. Ini masalah selanjutnya. Gue belinya ama siapa ? Gue sih pengennya ama nicot, soalnya nicot yang lebih paham soal begituan. Eh, tapi dianya lagi pulang ke semarang. Mau ajak Ikha, takut ga mau, Dewi belum di ajak udah nolak duluan.

Namun, Tuhan memang sayang sama gue, ujug-ujug Kikik sms minta dianterin ke purna karena ada sautu urusan, yaudah, gue minta tolong dia aja buat anter beli kado, dan dia ngasih referensi tempat yang pas buat beli kadonya. Akhirnya kami kesana dan langsung beli.

Abis beli, Gue ama Kikik mampir McD dulu -yang ini ga ada hubungannya ama topik, yasudah abaikan dan skip- Abis dari McD, kami langsung ke Toko Merah Gejayan buat beli kertas kadonya, nah, disan ngga ada ada kertas kado yang bagus ternyata~ yaudah deh beli seadanya. Kartu ucapannya juga ngga ada yang bagus, ngga yang ucapan birthday, tapi happy wedding semua, yah dari pada ngga ada lah, langsung gue beli juga.

Urusan beli membeli udah kelar kan, nah nyampek rumah gue langsung bungkus tuh jam. Pake segala macem. Koran, brosur, flyer, kertas UTS gue pun ada. Dan itu memakan waktu yang banyak buat ngebungkusnya. Yaemang guenya akja yang kerajinan. Gue ngebungkusnya ngga cuman selapis, sepuluh ada mungkin, dan akhirnya selesai. Sebenernya ada sih fotonya, cuman males aja nyari dan uploadnya hahah :D

Keesokan harinya, yaitu hari ini, gue ngga sabar buat nunggu ntar malem dan dia buka kadonya wkwkw :p tapi jujur aja, gue sebenernya lagi kesel ama dia gara2 ga diijinin pulang, ya tapi gimana lagi, demi anak battery, gue harus profesional :D

Sampe malem, mas Bagus bikin ide konyol buat mas Dyas marah, tapi gagal -_-
Pas udah apel tutup, anak battery nyuruh gue beli kue, aduh kebingungan gue dalam hal kado-kadoan belum berakhir ruapnya, pemirsa. Ya kali jam 10 begitu mana ada toko roti atau kue yang masih buka. Eh, tapi ternyata ada sih, di Kuki Bakery. Akhirnya gue mendapatkannya, dan langsung beli lilin. Gatu ya gue umur dia berapa, tapi dengan pedenya gue beli yang 21 haha, semoga saja benar.

Oke sampe purna lagi, dan kita di marahin mbak bela gara2 jumbo baru udh di pake battery, dan itu isisnya sprite. 2 Liter. Di buang -_- emane caaah~

Dan sampailah pada puncak acaranya, mbak Lia dan Mbak Yusti bawain kuenya, dan dia cuman ketawa2 aja. Udah beres. terus prosesi buka kado hahah. Itu yang gue tunggu-tunggu :D katanya "Kalo bukan dari anak battery, ngga akan pake kesabaran bukanya juga"

Yuadah lah itu aja mungkin. Semoga bermanfaat ya, Coach :D
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 00.19 0 komentar

Jumat, 20 September 2013

Iyain Ja deh !

Oke deuh. Kalo harus berdebat sama dia, jelas gue kalah. Gue mah apa atuh.
Gue juga mempertimbangkan baik buruknya.
Gue juga ga mungkin seteledor yang kalian bayangkan saat ini.
Pelatih ga ngijinin. Di bilang ga logis, ga rasional, ga masuk akal, ga logis. What ever lah
Nyokap juga ngga ngijinin.
Tapi.. ah gatau lah.
Emang susah !
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 13.40 0 komentar

BMBC 2013

Selamat Siang ! Siang ! Siang ! Siang !
Aku galau, rencana mau pulang tapi batal dan gagal. Tanggal 27-28 besok, band sekolahku lomba. BMBC, iya, itu kompetisi yang sama yang dulu pernah aku ikutin. Tahun 2011 sih. Juara 3. Ga puas lah.

Besok, batterynya turunin drum battle, aku ga bisa liat. Padahal pengen banget liat adek2 penerusku berjuang !

Apa daya, ada beberapa pihak yang ngga ngijinin. Bilangnya aku ga rasional, ga logis, egois. Di iyain aja deh. Terserah mereka mau bilang apa.

Ya mungkin menurut mereka, ini amat sangat ngga penting. Tapi ya, mereka ngga tau. Band itu yang membesarkan aku, yang ngajarin aku artinya kebersamaan. Sedih betul rasanya. aku cuman minta maksimal seminggu aja ngga boleh. Pengen nangis banget !

Ya tapi balik lagi, nangis bener2 ga ada gunanya. yang ada pihak-pihak yang melarang gue malah makin ngejelekin gue, bilang cengeng atau egois mungkin.
Aku cuman bisa berdoa. Semoga squad MBGSM taun ini menampilkan yang terbaik, main dari hati, dan mereka bakal meraup hasil yang sama dengan kerja kerasnya.

Ka Rian, Rendy, temen seperbatteryan gue. Walaupun gue lebih lemot dan ngga ada apa-apanya di banding mereka, tapi gue yankin mereka masih menganggap gue ada dan menginginkan gue ada disana. Cepew, Dillan, Akew, Wiwi temen-temen angkatan tiga gue yang super, gue ga bisa menyaksikan kesuksesan MBGSM taun ini sama mereka.

Aku masih ga terima, aku tega banget rasanya ga dateng kesana. Walau menonton dan ga bantu lebih di tim managerialnya. Tapi aku yakin, dengan kedatangan alumni itu menumbuhkan semangat tersendiri buat anak-anak squad. Mereka bakal ngerasa ada support yang super hanya dari kedatangan alumni. Ini juga bentuk apresiasi alumni ke ade kelasnya.

MBGSM. Sang Juara abadi, yakinlah, kalian pasti bisa ! Bayar semua keringatmu dengan Juara Satu !!
Doaku dari sini :)
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 12.41 0 komentar

Jumat, 19 Juli 2013

Bassdrum

Bassdrum.

Bassdrum itu salah satu line di Marching Band divisi Battery Percussion. Di dalam battery linenya ada Snare Drum, Multi Tenor Drum (Quintom), Bassdrum ama Cymballs. Yah tau lah kayak gimana bentuknya.

Disini gue ngga akan ngejelasin gimana caranya main Bassdrum yang baik dan benar atau mendeskripsikan Bassdrum kaya apa dengan merk apa yang kualitasnya bagus atau sebagainya. Mungkin bakal ada sedikit sih penjelasannya sembari gue curhat :D
Bassdrum itu mainin satu bar tapi yang mainnya dikordinasi dari bassdrum satu sampe lima. Kata orang, tapi memang seharusnya dan lumrahnya, anak bassdrum itu punya chemistry yang kuat. Dalam hal apapun. Yakin. Itu bener. Secara, mereka berlima atau berempat yang otaknya dijadiin satu, yang pikirannya jadi satu dan harus punya detak jantung yang sama buat menghasilkan permainan yang harmoni dan bagus. Kalo ngga gitu, mainnya bakal ngalor ngidul ngetan ngulon per anak -_-

Tapi kenyataannya, di unit ini, MBUGM, entah kenapa gue belum dapet chemistry itu ? Kenapa ya ? Apa guenya terlalu tertutup ? Gue rasa engga. Terus kenapa ? Gue ngerasa aneh.

Oke mungkin ada baiknya gue jabarin dulu posisi gue. Gue udah bermain Marching dari SMA. Sekarang gue nerusin lagi di Universitas yang Marchingnya juga bukan marching ecek-ecek. Gue ada di line yang sama, yaitu bassdrum. Bedanya, dulu gue ngga tau teknik. Belajar partitur sendiri dan no coach. Gue disini posisinya di Bassdrum 1, Bassdrum 2 ada Natan, Bassdrum 3 ada Irfan, Bassdrum 4 ada Upik dan Bassdrum 5 ada Zumar. Seperti yang gue bilang tadi. Gue belum dapet chemistry SAMA SEKALI dengan mereka, sedangkan ini udah berjalan udah lama. Gue udah menetap agak lama di MBUGM. Kenapa hal itu bisa terjadi ?

Dulu jaman gue SMA, Road to BMBC 2011 gue di bassdrum 1 juga, bassdrum 2 ada Anggun, bassdrum 3 ada Maudy, bassdrum 4 Rezky.
Gue-Anggun-Maudy-Rezky

Kami solid banget. Sampe sekarang (kecuali ama Rezky) Kami selalu kemana-mana bareng, main, jajan, makan, ngobrol, apapun, gue melakukannya bareng-bareng, dan mereka ngasih kado waktu gue ulangtahun. Satu set boneka Upin Ipin.



Waktu itu posisi gue, gue kaka kelas mereka, gue kelas 3 mereka kelas 2, tapi hal itu ngga membatasi sikap kita. Mungkin karena gue orangnya open, tapi mereka juga menghormati gue kok sebagai kakak kelas. Saking solidnya, kami dijulukin keluarga upin ipin ama Ka Bembi, pelatih gue waktu itu. Gue jadi Opah, Anggun Upin dan Maudy jadi Ipin. Itu berlangsung sampe sekarang. Dan bahkan saking solidnya kami, kami dibilang nge-Gank ! Itu beneran. Band SMA gue emang mengharamkan adanya gap-gap an. Waktu itu unit lagi dikumpulin buat ngebahas soal Gank ! Dan anak yang bersangkutan bilang “Kenapa yang disorot cuman kita ? Padahal Kak Tika, Anggun ama Maudy juga kemana-mana bertiga. Mereka juga nge-Gank” Jelas gue langsung membantah. Lha wong jadi anak bassdrum itu emang kodratnya seperti itu. Tuntutan pekerjaan lah istilahnya.

Sampe sekarang, Anggun dan Maudy masih berkomunikasi dengan baik. Bahkan sepertinya ngga akan pernah saling melupakan.

Berbeda banget sama sekarang ? Kenapa ? Siapa yang salah ? Gue ngerasa gue udah open ke mereka. Natan jutek. Irfan polos, Upik sosi, Zumar juga sosi. Apa karena mereka orang awam dulunya ? Apa guenya yang emang ngga bisa baur ? Atau gimana sih ? Gue selalu ngerasa ada satu orang yang paling egois disini. Tapi kata mas Dyas, jangan suudzan. Terus gimana ? Ini ngga akan baik, sampe nanti GPMB gue ngga mau cuman gini-gini aja. Hambar. Bassdrum macam apa ini ! Kalopun gue merutuk, gue merutukin diri sendiri.
Gue kangen Upin Ipin. Gue kangen saat gue ngobrol bareng mereka, curhat bareng mereka, nyuruh privet, nyemangatin merekan saat mereka down, makan berang atau sebagainya. Kami dulu anak SMA. Tapi suatu chemistry itu indah.

Haruskah gue ngebandingin yang disini ama yang disana ? Haruskah ?

Kapan Natan, Irfan, Upik dan Zumar ngerti tentang pentingnya Chemistry di Bassdrum ? Gue ngerinya kalo mereka ngga peduli dengan apa yang gue pengen. Bukan gue. UNIT yang pengen. Mau hambar-hambar aja nih sampe GPMB ? Bukan sukses yang ada, tapi dendam. Ayo aja, gue berani taruhan. Disaat ntar pas GPMB kita belum punya chemistry, kalo ada salah satu anak yang salah pasti nyalahin. Bukan ngebenerin. Plis. Buka mata hati kalian !
Sekarang aja, bass 3-5 ngga pernah latian. Gue ampe gedhek ditanyain “Tik, buntutmu mana ?” “Tik, temen-temenmu mana ?” Ayolah bass, itu bukan suatu prestasi yang membanggakan !! *minjem kata-katanya mas Bagus*

Huft! Gue pengen secepetnya chemistry itu terbentuk. Secepat mungkin Bass ! Secepat mungkin!
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 06.38 0 komentar
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod