skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Fraintika Anggraeni
Fraintika Anggraeni kerap disapa Weje, Atun, atau Tuk-tuk. Punya persepsi sendiri tentang segala hal, tapi selalu terbuka terhadap persepsi orang lain. Tiap tahun ada masanya. Tiap masa ada tahunnya. Belajar legowo dan terima kenyataan :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Kalendar

research paper essay Free Calendar

Clock clock

Archivo del blog

  • ▼ 2017 (7)
    • ▼ September (1)
      • YOU JUST ONLY HAVE ONE LIFE, JUST LOVE WHAT YOU DO...
    • ► Agustus (1)
    • ► Januari (5)
  • ► 2016 (13)
    • ► Desember (4)
    • ► April (1)
    • ► Maret (3)
    • ► Februari (2)
    • ► Januari (3)
  • ► 2015 (14)
    • ► September (2)
    • ► Juni (2)
    • ► Mei (2)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)
    • ► Februari (4)
  • ► 2014 (49)
    • ► November (2)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (3)
    • ► Juni (11)
    • ► Mei (4)
    • ► April (11)
    • ► Maret (6)
    • ► Februari (4)
    • ► Januari (6)
  • ► 2013 (40)
    • ► November (5)
    • ► Oktober (3)
    • ► September (3)
    • ► Juli (3)
    • ► Februari (23)
    • ► Januari (3)
  • ► 2012 (30)
    • ► Desember (1)
    • ► November (11)
    • ► Oktober (6)
    • ► September (12)
  • ► 2010 (2)
    • ► November (1)
    • ► September (1)

Label

  • Cerpen (2)
  • Curhats (30)
  • Informatif (2)
  • Me and My Friends (7)
  • Owl City Lyrics (5)
  • Puisi (11)

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Info

Rumah Dijual di Bintaro

Pengunjung

Lencana Facebook

Fraintika Anggraeni

Buat Lencana Anda

F R A I ' S

Ketika perkataan bisa berubah di lidah, namun dalam aksara, kata akan tetap sama :)

Jumat, 21 Februari 2014

Ada Beberapa yang Bisa Kupetik

Memang benar apa kata Pram, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Aku ngga akan bercerita tentang menulis, tapi aku pengen mengakui, aku suka menuangkan sesuatu dalam kata. Karena kata selalu akan jadi alat untuk bernostalgia ke masa lampau :’) itu terbukti  :D
Sekarang, Kamis, 20 Februari 2014. Taun lalu, tepatnya tanggal 29 Februari 2013 SK aku sebagai section leader (seclead)  dibacakan di apel tutup. Bersama sekitar 7-8 orang yang lain. Aku sebagai section leader Battery Percussion. Entah atas dasar apa petinggi-petinggi saat itu memilihku. Aku benar-benar tak habis pikir. Aku sebenarnya tak mau jika harus menjabat sebagai itu lagi, mengingat saat SMA aku pun punya jabatan seperti itu.

Menjadi section leader battery MBUGM sangat tidak mudah, memang tak ada yang mudah ketika menjalankan tugas sebagai seclead. Battery, terbilang section yang bandel, nakal, pecicilan, petakilan dan sebagainya yang mendeskrpsikan tidak bisa diatur. Tugasku memang hanya sekadar menjarkom mereka, itu mungkin yang mereka tau. Namun, aku punya beban yang cukup berat. Aku harus menyatukan mereka dan baru aku tau belakangan, tugasku paling tidak beres diantara seclead section lain, maupun seclead battery rotasi atas. Ya, aku gagal. Battery baru terbentuk nonteknya di pertengahan Oktober. Oktober, bahkan karantina di Septemberpun nontek battery belum terbentuk. Menyesal, jelas. Tapi aku tak akan pernah kembali menjadi seclead atau mengatur waktu. Benar kata mas Bagus tadi, waktu adalah hal yang sangat berharga. Melebihi apapun.

Tapi aku tak lantas menerima mentah-mentah kegagalanku. Aku memang gagal, dari segi nonteknis maupun teknis. Kasarnya, tak ada yang bisa dibanggakan dariku. Sama sekali. Tapi, di balik itu semua, aku mendapat pelajaran, walau hanya remah-remah, setidaknya ada hasil yang aku petik dari proses setahun kemarin. Aku menemukan orang-orang yang hebat disini. Aku menemukan Mas Dyas sebagai pelatih. Dia sabar, bahkan aku tak pernah mendapatinya marah. Hanya dua kali seingatku. Dulu sekali saat masih baru-baru, dia sempat membentak dan karantina di Solo kemarin, dia hampir tak mau bertemu dengan anak-anaknya. Tapi, ya itu memang kesalahan kami yang terlampau keterlaluan. Lalu ada Rifqa, Ikha, Dewi, dan Nisot teman perempuan sebattery, kami menamai diri kami sebagai Ciwi Battery. Hanya untuk lucu-lucuan. Sebenarnya masih ada mbak Farah, tapi kami beda rotasi. Aku selalu bilang pada mereka bahwa aku tak punya teman selain mereka. temanku hanya ada di Marching Band. Karena hanya dengan mereka lah aku bisa berbaur. Mereka menjadi penyemangat tersendiri buatku. Lalu ada Natan, Irfan, Upik, dan Zumar, teman line ku di Bassdrum, mereka semua menyebalkan. Tak ada yang tidak. Tapi mereka squad yang keren. Kami satu rotasi, bersama-sama dari awal latsar sampai GPMB selesai. Itu suatu yang sangat aku banggakan. Walau mereka menyebalkan, tapi mereka selalu jadi yang terhebat. Ada Aji, Aris, Bang Farid, Mas Mursyid, Mas Bagus, Mas Samy, dan Mas Husen. Mereka punya keunikan sendiri-sendiri yang benar-benar membuat battery menjadi benar-benar battery. Ya, seharusnya aku bisa menyatukan berbelas orang itu. Tapi nyatanya aku tidak mampu.

Battery. Aku selalu bangga jadi battery. Seperti kata pelatihku, Mas Dyas. Dia selalu bangga menjadi seorang battery, begitu pula denganku. Tapi dia berbeda, dia memberi banyak kontribusi untuk unit, sedangkan aku, hanya membawa record buruk. Aku tak bisa membawa battery sesolid yang battery-battery sebelumnya mau.

Sekarang, masa jabatanku sebagai seclead akan segera dilepas dan diturunkan dan digantikan dengan anggota baru nantinya. Jujur, aku sedih. Aku akan kehilangan salah satu rutinitasku. Memberi info pada teman-teman battery. Menjarkom, print partitur, print chart display dan mau tak mau, tabungan sedikit terkuras untuk itu, memarahi temanku yang tak jelas keberadaannya,dimarahi pelatih, bahkan aku harus mengorbankan semua waktu liburanku. Aku selalu mengerjakan semua itu tanpa berpikir bahwa kegiatan itu akan berakhir. Pernah sih, sesekali, aku mengeluh. Tapi aku selalu berpikir lagi, ini memang kewajibanku, dan ini akan jadi pengalaman tersendiri buatku.

Menghadapi mereka memang harus mempunyai kesabaran yang ekstra. Walau mereka menyebalkan, tapi harus aku akui, kalau mereka tak menyebalkan bukan battery namanya. Aku sangat mewajarkan dan memaklumi hal itu.
Ya, intinya kini, aku akan kehilangan rutinitasku, padahal kerjaku belum tuntas. Aku tak tuntas mengerjakan pekerjaanku. Aku merasa gagal. Jujur, aku sangat sedih, jika ada kesempatan sekali lagi, aku akan memperbaikinya. Itu pasti. Tapi tak lagi kesempatan lagi jadi seclead.
Dulu, apa Mbak Farah juga merasakan hal yang sama denganku ? entahlah, mungkin tidak, mungkin ia tuntas.

Terimakasih, Batt. Telah mau bekerjasama denganku selama kurang lebih satu tahun kemarin. Kalian selalu jadi yang terhebat buatku.  Terimakasih mau terganggu dengan sms-sms ku hampir tiap malam, yang bahkan kalian benar-benar tak membaca atau malah langsung menghapusnya. Smsku mungkin memang tak ada bedanya dengan  sms operator provider, ya :’).  Terimakasih, telah memberiku banyak pelajaran. Terimakasih atas semua canda tawa sedih susah bahkan ada airmata, kalian bukan temanku. Kalian keluargaku.

Nontek di Pantai Depok


Event Boyolali

Event Maba



Semoga seclead battery selanjutnya lebih baik dariku. Semoga seclead selanjutnya akan membawa battery pada kesolidannya seperti dulu. Semoga J
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 15.28 0 komentar

Sabtu, 15 Februari 2014

Sekali lagi, Terimakasih

Aku ga pernah punya pikiran kalo aku bakal bisa menjalin komunikasi dengan dia. Sama sekali ngga punya pikiran. Sampe akhirnya, Kabid SDM 2013 menunjukku buat jadi ketua di sebuah acara tahunan dalam rangka menyambut kehadiran calon anggota di unitku. Awalnya aku menolak dan seharusnya memang aku tak pernah mengambil keputusan konyol itu demi keinginan masa laluku. Aku benar-benar sudah lupa akan dia. Benar-benar pernah sudah lupa sama sekali bahwa aku penah menyukainya. Tapi ada seseorang yang mengingatkanku karena ia bertanya "apakabarnya dia?" Jelas aku tidak bisa menjawab. Dia tak mengenalku, dan aku hanya iseng menyukainya.

Seharusnya aku tak pernah menerima tawaran itu. Benar-benar jangan pernah menerima. Sebenarnya acara itu terbilang sukses dan berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Banyak pelajaran juga yang aku ambil dari acara itu. Aku yang tak pernah punya peran penting dalam sebuah acara kini harus jadi ketua dan harus mengatur anak buahku. Oiya, seseorang yang aku sukai itu menjadi salah satu dari timku. Dan ini adalah niat baik dari Kabid SDMku. Niat baik yang menjadi salah.

Acara itu berlangsung pada tanggal 8 Februari 2014 di Gelanggang Mahasiswa Univ Gadjah Mada. Siangnya, aku mendapati banyak masalah, ini salah satu pembelajaran buat aku. Benar-benar pelajaran. Kunci gudang alat hilang, sedangkan beberapa pengisi acara harus melakukan Gladi. Belum lagi tim pendekor yang bekerja terbilang lambat dan beberapa masalah teknis lainnya. Namun, semuanya dapat teratasi dengan cukup baik.

Harus kuakui, acara itu memberi kesan yang mendalam buat aku, ketika aku bekerja sama dengan dia, mendekor, membersihkan hall, memasang kain di pintu selamat datang, memasang sound, banyak hal yang kulakukan bersamanya, bahkan aku sempat menggodanya saat acara telah usai. sampai-sampai ketika acara berakhir, dia memboncengku saat mengembalikan alat. Itu mungkin hanya terjadi sekali dalam seumur hidupku. Sebuah kesan yang dulu hanya kuangankan hahaha.

Aku menyukainya sejak awal aku mengenalnya, Latsar 2013. Itu bisa dilihat dari tulisan-tulisanku di blog ini pada setahun yang lalu. tepat pula di bulan febuari. Rasanya, ini konyol. Seolah tertata rapi, padahal tak ada unsur kesengajaan. Aku tau mayoritas teman-teman di unit tahu bahwa aku menyukainya dan semuanya selalu menggodaku ketika aku sedang berbicara dengannya. Itu biasa saja bagiku. Ketika teman-temanku membutuhkan SDM untuk acaranya, mereka memintaku untuk menghubunginya dan menawarinya untuk mau membantu acara-acara itu. Ya, ada sekitar tiga acara. 
Namun, kemarin, tanggal 13 Febuari 2014 aku menyaksikan sebuah pernyataan yang sangat memukulku dan benar-benar membuatku tak percaya. Pernyataan yang benar-benar tidak bisa kuutarakan. Seolah hanya aku yang bisa merasakannya. Ya, itupun akan jadi pelajaran buatku.

Dengan menulis ini, aku sedikit merasa lega. Walau tak sepenuhnya lega, karena pada awalnya aku tak ingin menuangkannya dalam tulisan, karena  kelak tulisan ini kubaca dan aku teringat akan hal bodoh ini. Terimakasih, telah memberiku pelajaran yang sangat berharga. Kau tak pernah tau seberapa dalam aku menyukaimu dan kau juga tak pernah tau, seberapa dalam kau melukaiku. Beberapa hari  lagi, acaraku resmi selesai. Aku ingin dan aku harap itu benar-benar yang terakhir kali aku bertemu dan berkomunikasi dengannya. Jangan ada hal konyol lagi yang terulang :)
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 17.08 0 komentar

Jumat, 14 Februari 2014

Thanks God, It's Friday :)

Jumat, 14 Febuari 2014. Waktu bangun, sekitar jam 05.30 tadi, aku bener-kaget, waktu liat ada serbuk-serbuk putih atau abu-abu yang berserakan di atas tanah, genting dan motor-motor tetanggaku. Ini benar-benar seperti salju. Aku teringat kata salah seorang konsultan battery, Kak Satya yang tempo hari bercerita tentang  yang sedang erupsi beberapa tahun lalu. Dan kini aku mengalaminya. Iya, mirip salju, tapi tak dingin.

Beruntung, semalam aku pulang tak sampai tengah malam atau dini hari, 23.30, walau terhitung sudah cukup malam, namun aku tak biasanya pulang secepat itu. biasanya di atas pukul 00.00 aku baru meninggalkan burjo.

Semalam aku disana. Tanggal 13 Feuari dengan perasaan hati yang teramat kacau. Kacau sekali, sampai-sampai aku tak bisa mendeskripsikannya. Bosan dan malas jika harus mengutarakan sesuatu yang telah membuat aku terluka sebegitu dalamnya. Padahal aku ingin sekali menuangkannya dalam beberapa kata. Tapi, tidak usahlah. Biar aku saja yang bisa merasakan pahit, perih campur pedih yang kemarin itu. Hanya kepada satu orang aku mengutarakannya. Dan dengan alasan tertentu, mengapa aku harus bercerita padanya.

Hari itu, Kamis, 13 Febuari adalah hari yang sangat ingin kulupakan, tapi sepertinya tak akan terlupakan. Ini terjadi duakali di dalam masa aku bernafas. Semoga saja hanya  duakali. Jangan ada tragedi-tragedi yang semacam ini di kemudian hari.

Hari inin\ dengan debu setebal 3cm di seluruh Jogjakarta. Aku mencoba untuk tidak melakukan satu kebiasaanku. Aku harus memulainya dan harus bisa pergi dari kebiasaan itu. Aku yakin aku bisa. Seperti beberapa tahun yang lalu, aku juga bisa lari walau terseok. Hari ini, hari Jumat, karena aku yakin Tuhan memang memberi pelajaran yang mendewasakan di hari ini. Tuhan tau jalan yang seharusnya kutapaki. Dan Ia sudah memberiku satu petunjuk untuk lari.

Satu tahun konyol yang terindah. Itu akan jadi ceritaku. Selama aku masih bisa mengingat dan mampu mendeskripsikan. Terimakasih, Tuhan. Kau mengakhirinya di tanggal 13 Febuari 2014 kemarin. Dan dihari ini, aku sudah bisa menjadi seseorang yang lebih dewasa. Karena aku yakin, masalah selalu mendewasakan :)


Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 15.30 0 komentar

Kamis, 13 Februari 2014

Terimakasih

13 Febuari 2014. Hari Kamis. Ini benar-benar hari yang sangat mendewasakan sekaligus hari paling sial seumur hidupku. Terimakasih. Aku tak akan mengganggumu lebih dari yang kemarin. Ini hari yang paling konyol :)
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 22.22 0 komentar

Senin, 13 Januari 2014

Sajak Hujan

Hari mulai sore. Hujan yang turun sedari siang tadi mulai mereda. Aku masih diam. Acara ini tak kunjung selesai. Aku bosan, aku jenuh di sini. Terlebih, aku punya sesuatu yang menyesak. Sesuatu yang tak bisa kuungkap sembarangan di sana-sini. Aku masih diam. Masih tak tau harus berbuat apa. Apa diam terus ?

Kemudian aku melengos, membuang muka ke arah rintik-rintik hujan. Di sana, ada segerombol anak yang setia dengan hujan. Apa mereka tak dingin ?

Kemudian aku melirik ke arah yang lain, ada sepasang yang bercumbu. Ah, aku ini di dunia nyata atau di dalam cerita, sih sebenarnya ?

Aku malas, makin malas menghadapi dia-dia-dia yang mulutnya bau busuk. Ah, aku ini menulis apa ?

Yang pasti aku rindu rumah. Rumah yang sebenarnya, dan itu sudah tidak ada. Aku rindu masakan Bunda. Hujan begini Ia jago sekali menyulap dingin. Walau Ia yang cerewet menyuruhku bangun cepat dan mandi sore, tapi aku rindu rumah.

Tapi, kerinduan ini hanya sebatas rindu sepertinya. Sama seperti merindukan ayah. Kalau aku rindu dia, rindu itu akan berujung rindu. Tak menemui titik temu. Ya. kerinduanku hanya akan menjadi rindu. Angin tetap saja angin dan dingin akan semakin mendingin.

Ayo! Kapan acara ini selesai, aku ingin segera pulang dan menangis. Mungkin aku akan membangkai sepi di kamar.
Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 16.16 0 komentar

Selasa, 07 Januari 2014

GPMB 2013

Hari ini, Hari Selasa.
Sudah seminggu berlalu. Masih jelas terbayang, detik-detik keberangkatanku bersama dengan timku menuju Jakarta untuk berkompetisi melawan tim-tim yang lain yang dirasa punya kekuatan yang lebih di banding kami. Detik-detik keberangkatan kami dimulai dengan apel pukul 20.00 di lapangan rumput depan sekretariat MBUGM di Gelanggang Mahasiswa. ditemani rinai gerimis yang romantis. Di apel itu, aku merasa beruntung, karena aku ditunjuk untuk membaca pancasetya pra-keberangkatan menuju GPMB. Aku punya persepsi sendiri untuk itu. Namun, ketua pelatih, Mas Rama, memberi pengumuman yang sangat memukul timku. Ia bilang, Mas Reza, salah satu Field Commander MBUGM, tidak dapat ikut bersama kami ke Jakarta karena mengalami musibah. Ah, malangnya. Kami menundukkan kepala sejenak dan mendoakan ia agar diberi kesembuhan. Lalu setelah apel, kami diberi waktu untuk beristirahat sambil menunggu armada bis yang akan mengantar kami ke arena kompetisi datang. Aku merasa lama sekali armada-armada itu datang. Aku benar-benar menunggu.

Pukul 01.30, empat armada itu datang. Warna merah, kuning, biru, dan orange. Aku bersama teman-teman sebattery ditempatkan di armada berwarna orange. Aku senang armada itu akhirnya datang. Aku senang ketika aku menaiki armada itu, aku senang, akhirnya perjalanan selama ini menemui ujungnya juga.

Namun, kesenanganku itu serasa didengar oleh pelatihku. Berulangkali ia bilang "Perjalanan ini bukanlah untuk tamasya. Kita akan bertanding"
Bukan masalah untukku. Aku paham keberangkatan kami bukan untuk senang-senang. Keberangkatan kami akan dipenuhi dengan beban mental yang teramat berat. Aku paham, aku sadar. Namun, aku tak mau berlarut-larut dalam ketegangan itu. Aku ingin mencairkan keteganganku lewat caraku sendiri. Dengan tidak mendengarkan semua perkataan yang sekiranya membuat ketakutanku semakin menggunung, termasuk tidak mendengarkan ucapan-ucapan pelatih yang mengisyaratkan agar kami jangan mendinginkan pikiran dari materi-materi yang telah kita lahap selama ini.

Armada kami meluncur, siap meninggalkan kampus kerakyatan dan daerah istimewa ini menuju ibukota yang katanya kejam. Aku sudah tidak asing dengan ibukota, tempat asalku berada di pinggirnya.
Perjalanan yang melelahkan. Berada di dalamnya kurang lebih delapan belas jam. Enam jam melebihi waktu yang diperkirakan. Akhirnya, kami sampai ditempat yang akan menjadi tempat istirahat kami selama di Jakarta. Asrama Haji Pondok Gede. Tempat itu tak jauh dari rumahku, aku selalu rindu rumah.

Selepas itu kami tidur dan keesokan harinya, di pagi buta, kami berangkat menuju tempat latihan di JI Expo. Kondisi latihan kami tak jauh berbeda dengan kondisi latihan selama di Jogja. Bedanya, di Jakarta kami didatangi banyak motivator yang membantu mendorong semangat kami untuk jauh lebih berkobar. Semangat untuk berjuang, semangat untuk menang.

Di Jakarta, semangatku menemui titik terendah. Aku merasa sangat pesimis, pesimis bahwa aku bisa, pesimis bahwa tim ini akan menemui keinginannya. Aku merasa, perjalanan ini akan sia-sia, dan hanya membawa pulang kesedihan. Namun, seorang temanku, tempat aku menumpahkan segala emosiku tak henti-hentinya memompa semangatku. Dita.

Dia bilang aku tak boleh menyerah, karena langkah kita akan segera terhenti dan aku harus mengubur dalam-dalam dan membuang jauh-jauh rasa pesimisku. Persetan lah kata-katanya itu, dalam hatiku mengumpat, namun aku segera tersadar, emosiku hanya ada sesaat dan aku takmau menghancurkan mimpi 108 orang yang menaruh harapan besar dalam kompetisi ini. Aku bangkit dan aku mencoba menanamkan kepercayaan bahwa unit ini bisa. Orang depan selalu bicara, unit ini hebat, namun belum tereksplor sempurna. Toh, aku pernah janji dulu bahwa di detik-detik berakhirnya perjalanan ini, aku akan menikmati setiap prosesnya. Baik itu ocehan teman, omelan pelatih, rasa sakit yang muncul bertubi-tubi, panasnya lapangan display, dinginnya angin dan hujan yang membasahi kaos latihan, hingga kantuk yang harus kami lawan mati-matian. Aku janji akan menikmatinya.

Ketika hari Jumat tiba, ya Jumat, 26 Desember 2013. Babak penyisihan. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan rasa gugupku. Kami, Tim Marching Band Universitas Gadjah Mada mendapat urutan tampil kedua. Sejak deville pembukaan dimulai, Tim kami sudah bersiap di roll call. Riuh penonton terdengar jelas dari roll call. Telapak tanganku semakin dingin. Dingin sekali. Aku tak tau, kenapa aku tak bisa mengendalikan rasa grogiku. Banyak official yang datang, menyalami, memberi semangat, memberi minum, memberi gula jawa. Aku hanya tersenyum getir. Aku benar-benar ketakutan. Padahal, ini bukan kali pertamaku mengikuti kejuaraan marching band. Dulu, aku bisa mengendalikannya. Atau mungkin ini adalah GPMB. Kompetisi marching band paling bergengsi di Indonesia. dan ini GPMB pertamaku.

Akhirnya, pintu dibuka. Riuh penonton luar biasa, walaupun bangku penonton masih sepi, karena hari memang masih pagi, tapi sorak sorai dari bangku penonton sudah cukup membuat aku bertambah kaku dan gugup. Sebisa mungkin aku mengatur nafas. Pertunjukkan segera dimulai. Aku tak mau merusak moment GPMB pertamaku.

GPMB pertamaku lancar, walau aku melakukan kesalahan konyol, aku tidak bisa memakai topiku kembali dengan sempurna saat frase "Pesta Rakyat" selesai. Topiku miring. Aku malu, tapi sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Itu pelajaran untuk Final nanti.

Setelah pertunjukkan, kami diboyong keluar arena. Aku benar-benar merasa lelah. Tanpa aku sadari, aku tertidur ketika teman-temanku sedang beristirahat. Aku dibangunkan oleh teman-teman marchingku semasa di SMA dulu. Ini kado luar biasa, mereka obat yang luar biasa. Ketika aku merasa lelah, mereka datang dengan sebungkus semangat yang kemudian mereka tularkan padaku. Mereka bilang, penampilan kami luar biasa. Sangat keren. Terimakasih, Kak Irfan, Firda, dan Kak Rubi. Kalian menjadi cerita GPMB ku sendiri. Setelah itu aku bertemu Lisfa. Ah, sangat ingin aku berlama-lama dengannya, namun pelatihku seolah memberi kode agar aku segera masuk bis karena kami harus segera kembali ke asrama.

Malamnya, kami diberitau bahwa kami menduduki peringkat dua. Di bawah duri, di atas UI. Iya, di atas UI. Aku merasa berhasil membuat sejarah baru di MBUGM. Tapi, pelatihku yang lain memperingatkan untuk jangan terbuai oleh peringkat yang belum pasti. Tetap berendah diri dan jangan takabur :)

Kami tetap berlatih, tak ada bedanya dengan latihan-latihan lain. Malah bisa dibilang semakin keras. Karena kami memang menginginkannya. Piala Presiden. Kami benar-benar mengejar empat poin itu. Banyak pembersihan, pendetailan, watering down, apapun yang bisa membuat kami merebut empat poin itu.

Hari Minggu tiba. Minggu 29 Desember 2013. Hari itu datang juga. Hari yang selama ini digembar-gembor. Hari yang menjadi tujuan kami. Hari yang kami impi-impikan. Hari yang kukira hanya ada dalam celoteh pelatih saja, akhirnya datang. Akhirnya kami menemui hari itu. Akhirnya kami akan bergulat dengan hari itu dan kami akan membuat sejarah baru  di hari itu. Akhirnya, hari itu datang juga. Aku masih tidak percaya. Kami mendapat urutan tampil ketiga dari akhir. Sekitar jam setengah tiga sore kami akan menampilkan pertunjukan yang telah kami siapkan selama dua belas bulan ini. Itulah hasil kerja keras kami. Hasil latihan kami. Hasil 9-9 kami, hasil TC 1 di Lapangan Pancasila. Hasil latihan TC 2 di AAU Yogyakarta. Hasil Karantina 1 di Akmil Magelang. Hasil TC 3 di Pyramid Bantul. Hasil Karantina 2 di Asrama Haji Solo. Hasil latihan di JI Expo. Hasil kami selama ini. Keringat, air mata, canda, tawa, marah, luapan segala emosi kami akan tertuang di dua belas menit terakhir itu.

Roll call kali ini berbeda dengan roll call di babak penyisihan. Roll call kali ini terasa lebih ringan dan tanpa beban, walau rasa grogi masih menggelayuti, tapi tak separah yang kemarin. Kali ini benar-benar masa-masa penghabisan, karena tak kan ada lagi runthrogh, tak kan ada lagi paket "Papua, Mutiara Hitam dari Timur". Ini yang terakhir. Aku ingin ini yang terbaik.

Pintu dibuka. Kali ini bangku penonton telah penuh dan amat riuh. Sorak sorai penonton kali ini bukan membuatku grogi, tapi makin membuatku lebih percaya diri. Aku benar-benar tidak mempedulikan apakah aku akan melakukan kesalahan, apa aku akan terjatuh nantinya atau apapun. Aku telah membuang rasa takutku. Ini penampilanku yang terakhir. Harus maksimal.

Ya! Aku melakukannya maksimal. Setelah selesai. Kami keluar, kami menangis sejadi-jadinya. Aku memeluk semua teman-teman battery. Rifqa, Ikha, Dewi, Nisot, Upik, Zumar, Natan, Irfan, Aris, Bang Farid, Mas Mursyid, Mas Samy, Mas Bagus, Mas Husen, Mbak Farah, Aji, Farrell, Ivan, dan pelatihku yang sangat aku sayangi, Mas Dyas. Aku meluapkan segala emosiku. Aku menangis. Aku tersenyum, aku tertawa, mereka tampak bahagia.

Namun, kebahagiaan mereka tak dapat mengalahkan kebahagiaanku. Ada seseorang yang datang kepadaku sambil membawa tulisan "We Love Tika UGM". Kak Ryan. Kakak battery terbaikku. Akhirnya ia menepati janjinya untuk datang menyaksikan GPMB pertamaku. Pelukanku kuhamburkan padanya. Aku memeluknya erat. Tanda terimakasihku. Aku memintanya agar tetap mengikutiku kemanapun aku pergi. Ia menurut. Sampai akhirnya, setelah penampilanku di stand Wijaya Musik, ia pamit untuk masuk lagi ke dalam dan menyaksikan sisa pagelaran yang ada. Terimakasih, Kak. Kamu jadi cerita GPMBku yang lain.


Setelah pertunjukkan. Aku tak segera melepas kostumku seperti yang dilakukan teman-temanku yang lain. Aku masih betah mengenakannya. Aku ingin lebih lama lagi mengenakannya, walau konsekuensinya, aku tak boleh duduk sembarangan. Tak apa, itu memang bentuk penghargaan terhadap unit. Aku hanya melepas rompi, topi dan mansetnya saja. Aku masih memakai kemejanya, masih memakai celananya, masih memakai sepatunya saat berbelanja, saat jalan-jalan, saat bertemu dengan Dillan, Rahman dan teman-teman GSM yang lain. Alasan lainku, aku ingin ikut deville. Aku ingin mengikuti upacara penutupan. Di saat teman-temanku enggan berdiri berjam-jam untuk menunggu pengumuman, lain halnya denganku. Aku sangat ingin ikut deville.

Ya! Akhirnya aku diperbolehkan ikut deville. Aku segera berlari menuju bis dan mengambil rompi, topi, dan mansetku. Aku bergegas menuju barisan deville. Ini deville GPMB. Aku yang akan mewakili unit untuk mengambil piala. Aku perwakilan unit. Aku merasa bangga mengikuti deville. Ya, mungkin hanya aku.

Pengumuman demi pengumuman telah terucap dari bibir MC. Pemenang juara satu telah diumumkan. BCK Duri, Riau. Tak apa. Mereka memang layak juara. Kini, tinggal pengumuman juara dua dan tiga. Tinggal UI dan UGM. Dua universitas ternama di Indonesia sedang berdegup jantungnya demi pengumuman siapa yang menduduki masing-masing peringkat. Akhirnya, MC membacakan pemenang ketiga, UI. Sontak kami bersorak. Karena kami yang kedua. Terimakasih Tuhaaan. Kau memberikan kami hadiah terbaik.

Semua anggota MBUGM turun dari tribun, memeluk satu sama lain, air mata bahagia berhamburan. Hymne dinyanyikan. Ah, aku bangga sekali saat menyanyika Hymne Gadjah Mada di lantai kuning Istora.

Ya, itulah cerita GPMBku. GPMB 2013 takkan terganti dengan GPMB-GPMB yang lain.

Terimakasih semuanya.
Terimakasih Battery.
Terimakasih Bassdrum.
Terimakasih Manager.
Terimakasih PH.
Terimakasih Kru.
Terimakasih sponsor.
Terimakasih Ciwi-ciwi.
Terimakasih MBUGM.
Terimakasih Pelatih.
Terimakasih Konsultan.
Terimakasih Tuhan :)


Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 15.40 0 komentar

Merindu

Sore terasa semakin hampa saja. Tak ada kegiatan yang sebenarnya telah mengurat nadi dan mendarah daging selama kurang lebih dua belas bulan ini. Ibaratnya dua belas bulan kemarin adalah masa berjalannya dan sekarang sudah sampai di tujuan. Iya, sudah sampai di tujuan. Kalau aku mau membandingkan, lebih baik aku tak pernah sampai di tujuan, daripada harus merasa hampa seperti ini.
Ini adalah minggu-minggu sibuk. Sibuk berkompetisi dengan teman-teman sekelas. Namun, aku sama sekali tak merasa punya beban. Beda dengan teman-teman seangkatan dan sejurusanku yang lain. Mereka nampak kaku dan sibuk. Aku merasa tak punya teman. Mungkin ini hanya ilusiku saja. Aku masih terbuai dengan perjalanan dua belas bulan itu, aku masih sibuk dengan ketidakpercayaanku akan sudah berakhirnya perjalanan ini. Aku masih tidak percaya.
Setiap sore, seperti orang gila, aku selalu ke tempat itu. Tempat dimana telah kuhabiskan waktu, emosi, dan keringatku selama dua belas bulan ini. Tempat dimana selalu ada kebahagiaan dan selalu ada kehidupan, kini telah membangkai. Sepi sekali. Tak seperti sore-sore di dua belas bulan yang kemarin, ketika sore datang dengan dingin yang menggulung-gulung, tempat itu menghangatkan. Kini, ketika hujan melanda, tempat itu semakin beku. Semakin dingin.
Hari-hariku makin kacau. Aku layaknya kecanduan. Hari-hariku kini makin sepi. Tak ada lagi partitur, tak ada lagi midi, tak ada chart display, tak ada jarkom, tak ada teman-teman yang bilang tak datang dengan alasan yang tak penting, tak ada lagi pelatih yang mengomel, tak ada lagi teman yang jengkel, tak ada lagi kejahilan, tak ada lagi ocehan-ocehanku menggerutu. Tak ada lagi.
Sebenarnya, aktivitas dan rutinitas itu akan ada kembali. Namun, pasti tidak akan sama rasanya seperti dua belas bulan kemarin. Pasti beda.
Ah, aku sangat merindu. Merindu sekali. Apakah ada seorang saja yang merasa semerindu ini dengan proses itu ?

Diposting oleh Fraintika Anggraeni di 11.50 0 komentar
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod